Kekeringan Belum Usai, Warga Harus Rela Berbagi Air dengan Ternak

Ilustrasi kekeringan. - Bisnis Indonesia/Endang Muchtar
22 Desember 2019 20:12 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Di pengujung 2019, sejumlah wilayah di Gunungkidul masih dilanda bencana kekeringan. Sejumlah sumber air masih kering lantaran hujan turun belum merata. Hingga saat ini warga masih mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah dan memanfaatkan sumber air dari sumur dangkal atau mata air dari luweng yang jumlahnya sangat terbatas.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Sapto Wibowo, menuturkan bantuan air bersih dari BPBD tak hanya digunakan oleh warga untuk mencukupi kebutuhan seperti mandi, cuci dan kakus. Warga, khususnya para petani harus berbagi air dengan hewan ternak yang mereka pelihara.

"Berdasar pantauan, warga memanfaatkan air bantuan dari pemerintah dan pihak swasta untuk memenuhi kebutuhan sekaligus untuk minum ternak. Bahkan beberapa warga lebih mengutamakan memberi minum ternak dibanding untuk kebutuhan sendiri," kata Sapto saat ditemui Harian Jogja, Minggu (22/12/2019).

Padahal, menurut Sapto, konsumsi air hewan ternak lebih banyak dibanding kebutuhan warga. "Kalau satu keluarga kecil pemakaian air per hari untuk makan mandi dan lainnya di kisaran 60 liter, tetapi kalau satu ekor sapi sekali minum bisa sampai dua galon atau sekitar 40 liter, kalai minum lebih dari dua kali tinggal dikalikan," ucap Sapto.

Sapto menjelaskan temuan tersebut kebanyakan berasal dari wilayah selatan Gunungkidul seperti di Kecamatan Tepus, Girisubo, Tanjungsari dan beberapa wilayah lain. Beberapa kali jajarannya melakukan pemantauan penggunaan air seusai penyaluran bantuan dari BPBD. "Saat kami ke lapangan seusai dropping, kami mendapati fenomena seperti itu. Karena hewan ternak juga buruh air, kami juga tak bisa melarang," tuturnya.

Sapto juga memastikan kualitas air bantuan dari BPBD sama dengan kualitas air dari pihak swasta maupun pedagang. Semua air yang disalurkan berasal dari sumber yang sama. "Kualitas airnya sama, kami ambil dari sumur bor yang sudah ditampung di bak seperti yang lainnya," tutur dia.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Gunungkidul, Agus Wibowo, mengungkapkan fenomena penggunaan air bantuan untuk minum ternak selalu terjadi di gunungkidul saat musim kemarau. "Bagi warga Gunungkidul hewan ternak merupakan harta yang sangat berharga, terkadang mereka juga rela bersusah-payah mencari air demi untuk minum ternak yang dimiliki," tuturnya.

Terpenting, kata Agus, masyarakat tidak kekurangan air. BPBD juga tidak mempermasalahkan dan menganggap hal itu merupakan persoalan biasa. "Yang penting kebutuhan warga bisa tercukupi," ujarnya.