Sekolah Katolik Harus Berani Melawan Arus

Rektor USD Johanes Eka Priyatma (kedua dari kiri) bersama Uskup Agung di Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko (tengah) saat memberikan keterangan kepada awak media dalam Konferensi Sekolah Katolik Indonesia 2020, Jumat (10/1/2020) di Kampus USD. Berita terkait ada di bagian lain halaman ini.-Harian Jogja - Rahmat Jiwandono
10 Januari 2020 20:37 WIB Rahmat Jiwandono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sekolah Katolik harus punya kekhasan sendiri di tengah arus perubahan zaman agar bisa berkontribusi kepada kehidupan bangsa dan negara tanpa meninggalkan jati dirinya.

Uskup Agung di Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengatakan sekolah Katolik merupakan tempat pendidikan yang penyelenggaranya tidak dapat lepas dari jati diri dan misi Gereja Katolik sebagai paguyuban umat beriman yang diutus untuk mewartakan Injil demi kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, sekolah Katolik mesti dikelola dan dikembangkan dengan konteks tersebut.

"Sekolah Katolik hanya akan memiliki kekhasan dan keunggulan ketika berani mengambil risiko dengan melawan arus umum dengan memberi perhatian besar bagi pendidikan iman, kepribadian, karakter dan kompetensi," katanya dalam jumpa pers Konferensi Sekolah Katolik Indonesia 2020 di Kampus USD, Sleman, Jumat (10/1/2020).

Melalui model pendidikan seperti itu akan terlahir pribadi-pribadi yang inklusif, inovatif dan transformatif.

Rektor Universitas Sanata Dharma (USD), Johanes Eka Priyatma menyatakan sekolah Katolik di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan berat di tengah arus perubahan zaman dan kemajuan teknologi informasi.

Tantangan yang dihadapi antara lain adalah relevansi sekolah Katolik dengan kondisi yang dihadapi masyarakat saat ini. Alhasil kata dia, perlu mendefiniskan ulang apa yang menjadi keunggulan dan kekhasan sekolah Katolik agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan bangsa.

Tantangan lainnya yakni perubahan lingkungan sekolah yang cepat. Ini menjadi tantangan bagi kepemimpinan di sekolah Katolik. Pemimpin dituntut memiliki kemampuan analisis, kecakapan mengelola perubahan, pengembangan kreativitas dan inovasi serta penegasan nilai-nilai kekatolikan.

" Terakhir adalah sekolah Katolik yang dikelola oleh banyak organisasi atau tarekat menghadapi model baru dalam membangun kolaborasi dan sinergi yang produktif. Baik dengan sesama sekolah Katolik, umat Katolik ataupun berbagai pihak," katanya.

Menurut Johanes salah satu strategi yang bisa dikembangkan dalam menghadapi tiga tantangan itu adalah menerapkan good school governance (GSC) yang memuat prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi dan fairness atau keadilan.

"Hal ini tentu tidak mudah diwujudkan karena secara tradisi banyak sekolah Katolik lahir dan berkembang memakai model tata kelola tradisional yang tidak biasa menerapkan prinsip-prinsip tersebut," ungkapnya.

Staf Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Iwan Syahril menyambut baik Konferensi Sekolah Katolik Indonesia 2020 yang diselenggarakan di USD selama tiga hari ke depan. Apa yang dinisiasi sejalan dengan program jajarannya yakni Merdeka Belajar.