Sanata Dharma Gelorakan Semangat Kebudayaan

Rektor USD Johanes Eka Priyatma (kanan) bersama dosen USD Yoseph Yapi Taum (kiri) saat menggelar jumpa pers, Kamis (19/12/2019).-Harian Jogja - Rahmat Jiwandono
19 Desember 2019 21:17 WIB Rahmat Jiwandono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Universitas Sanata Dharma (USD) Jogja menggelar acara puncak peringatan dies natalis ke-64 kampus tersebut pada Jumat (20/12) ini.

Rektor USD Johanes Eka Priyatma, mengatakan pada dies natalis tahun ini pihaknya mengusung tema Peran Kebudayaan dalam Strategi Pembangunan Bangsa: Merajut Ingatan, Merawat Harapan. Salah satu budaya yang menjadi perhatian USD adalah budaya Jawa.

"Dies natalis ke-64 dalam konteks masyarakat Jawa merupakan tumbuk ageng yakni delapan kali delapan windu," katanya saat jumpa pers di Auditorium Driyarkara USD, Sleman, Kamis (19/12/2019).

Ia berharap ke depan USD semakin meningkatkan konsolidasi internal agar punya kemampuan diri, berkontribusi lebih baik dan sadar akan peran budaya dalam pendidikan. "Terakhir adalah mengabarkan kontribusi kami dalam membangun negeri ini [harapan untuk USD]," kata dia.

Dosen Fakultas Sastra USD yang akan menyampaikan pidato dalam perayaan dies natalis, Yoseph Yapi Taum, menjelaskan ihwal tema budaya yang diusung lembaganya.

Ia menuturkan kebudayaan umumnya diartikan sebagai suatu sistem pengetahuan, gagasan dan  ide atau pola nilai, dalam bentuk simbol-simbol yang dimiliki dan diwariskan secara historis oleh suatu kelompok manusia tertentu. Fungsinya sebagai panduan bagi mereka yang menjadi anggota warga kelompok itu dalam bersikap dan bertingkah laku.

Arti kebudayaan menurut ilmuwan Clifford Geertz, kata dia tidak dapat dipisahkan dari tujuan akhir atau ideologi yang mendambakan suatu sistem politik ideal. "Bisa saja suatu gejala sosial terwujud dalam kebudayaan, agama dan ideologi sekaligus," jelas Yoseph Yapi Taum.

Kendati demikian kata dia setelah 74 tahun Indonesia merdeka, bangsa ini masih gagap menghadapi perbedaan budaya. Berbagai peristiwa persekusi, diskriminasi, rasisme, dan ujaran kebencian berbasis suku, agama, ras, dan antar-golongan masih kerap terjadi. "Bukti nyata saat pilkada di Jakarta pada 2017 lalu dan yang terakhir pada pilpres kemarin," ungkapnya.

Kebudayaan menurutnya bisa menjadi sistem pengetahuan (merajut ingatan) untuk merespons persoalan bangsa. Sebab kebudayaan menjadi dasar dan tujuan terakhir sistem sosial masyarakat yang mendambakan sistem politik ideal.