Pelajar Korban Klithih di Bantul Meninggal Dunia

Budiastuti, menunjukan foto anaknya Fatur Nizar Rakadio semasa hidup melalui ponselnya di rumahnya di Dusun Ponggok I Desa Trimulyo, Kecamatan Jetis, Bantul, Sabtu (11/1/2020). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
11 Januari 2020 15:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Fatur Nizar Rakadio, 16, korban kejahatan jalanan atau klithih di Jalan Panggang-Siluk, Selopamioro, Imogiri, Bantul, pada 14 Desember 2019 lalu, akhirnya meninggal dunia. Pelajar di salah satu sekolah menengah kejuruan (SMK) negeri di Sleman itu mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito, Kamis (9/1/2020) malam.

Selama hampir sebulan Dio, panggilan akrab Fatur Nizar Rakadio, menjalani perawatan medis karena mengalami patah tulang leher, punggung dan tulang ekor. Dio meninggal dunia sekitar pukul 22.30 WIB dan dimakamkan pada Jumat (10/1/2020) siang. Ratusan pelayat yang sebagian besar teman-teman sekolahnya mengiringi kepergian Dio sampai pusara di Dusun Ponggok 1, Desa Trimulyo, Jetis, Bantul, yang tak jauh dari rumah korban.

Deddy Indrihartono dan Budiastuti, kedua orang tua Dio, tak mampu menyembunyikan kesedihan atas kepergian anak keduanya tersebut untuk selamanya. Selama dalam perawatan, Deddy dan Bidiastuti telah melakukan berbagai upaya untuk kesembuan anaknya, namun Tuhan berkehendak lain.

"Banyak yang bilang dengan kondisi luka yang parah seperti itu, anak saya luar biasa bisa bertahan sampai hampir sebulan," kata Deddy, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (11/1/2020).

Deddy mengatakan setelah kejadian tersebut, anaknya mati rasa pada bagian tangan dan kaki. Setelah dibawa ke Rumah Sakit Nur Hidayah akhirnya dirujuk ke rumah sakit swasta di Jogja. Dari hasil scan di rumah sakit tersebut, Dio diketahui mengalami patah tulang pada bagian leher, tulang belakang dan tulang ekor. Rumah sakit pun merujuknya ke RSUP Dr. Sardjito.

Di Sardjito, Dio sempat membaik bahkan bisa berkomunikasi, namun tangan dan kaki masih tak bisa digerakkan. Empat kali upaya operasi urung dilakukan hingga ajal menjemput karena kondisi Dio drop setiap akan dioperasi. Sempat dipindahkan ke bangsal, namun sejak tujuh hari sebelum meninggal kondisi Dio semakin lemah dan mengembuskan napas terakhir di ruang PICU pada Kamis malam lalu.

Deddy tidak tahu pasti apa yang terjadi ada anaknya. Namun berdasarkan penjelasan teman-temannya, Dio ditendang saat pulang dari pantai di Jalan Panggang-Siluk pada Sabtu, 14 Desember 2019 lalu. Siang itu Dio bersama rombongan teman-temannya dari sekolah pergi ke pantai di Gunungkidul dengan mengendarai sepeda motor.

Pulang dari pantai, rombongan korban berpapasan dengan rombongan pemotor lain di Jalan Panggang-Siluk. Salah satu dari rombongan berlawanan arah itu melempari motor korban dengan cat. Setelah itu rombongan pelaku berbalik arah mengejar rombongan korban dan salah satu dari pelaku menendang motor Yamaha R15 yang dikendarai korban hingga korban terjatuh ke aspal.

Tidal hanya Dio, teman-teman korban yang ada di belakangnya juga ikut terjatuh. "Selain anak saya, teman-teman korban lima orang juga terjatuh dan mengalami luka-luka. Anak saya yang lukanya paling parah," ungkap Deddy.

Saat proses evakuasi ke rumah sakit, kata Deddy, pelaku yang menendang korban dan teman-teman pelaku ternyata kembali ke tempat kejadian dan mengumpat dengan kata-kata kasar. "Ada saksi yang melihat pelaku dengan jelas sampai ke postur tubuhnya, jelas sekali pelakunya, " kata dia.

Deddy sudah mendapat informasi bahwa pelaku tersebut sudah ditangkap. Namun Deddy sendiri belum mengetahui pasti pelaku yang ditangkap tersebut.

Ia belum bisa bicara banyak soal pelaku. Namun ia mengungkapkan tidak habis pikir terhadap pelaku yang tega mencelakakan anaknya hingga meninggal dunia. Padahal selama yang dia tahu anaknya tidak memiliki musuh. Jarang bergaul ketika sudah pulang ke rumah dan lebih sering di rumah selain aktivitas sekolah.

Budiastuti mengatakan setiap hari, anaknya menghabiskan waktu di sekolah. Berangkat pagi pukul 07.00 WIB dan pulang petang. Ia mengatakan Dio memiliki banyak kegiatan ekstrakurikuler di sekokah, salah satunya adalah sebagai anggota pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka). "Pas pemakaman kemarin yang mengantarkan teman-teman Paskibraka, " ujar Budiati.

Ia tidak memiliki firasat tentang kematian anaknya. Namun sekitar satu jam sebelum kejadian, Dio mengirim pesan singkat melalui aplikasi Whatsapp bahwa teman-temannya akan main ke rumah. Namun sekitar pukul 15.00 WIB ia mendapat kabar anaknya sudah di rumah sakit.

Selama proses perawatan medis anaknya dapat berkomunikasi namun tangan dan kaki tak bisa digerakkan. "Sempat bilang 'kalau Dio sembuh katanya ingin mengundang saudara, tetangga dan teman-temannya untuk datang ke rumah dan makan-makan. Saya jawab iya pasti," ungkapnya sambil meneteskan air mata. Pesan itu dianggap Budiastuti menjadi penanda anaknya wafat dan banyak yang datang ke rumah.

Pelaku Ditangkap

Sementara itu Kasat Reskrim Polres Bantul, AKP Riko Sanjaya memastikan telah menangkap pelaku kejahatan yang menyebabkan korban kecelakaan hingga meninggal dunia. "Sudah kami amankan dan saat ini masih dalam proses pengembangan," kata dia.

Riko mengatakan ada beberapa orang yang diamankan dan masih dimintai keterangan, salah satunya sudah ditetapkan sebagai tersangka yang diduga menendang motor korban hingga terjatuh. Namun ia belum bisa menjelskan lebih lanjut karena masih dalam pemeriksaan. Pihaknya masih mencari bukti keterlibatan pelaku lainnya.