Polisi sudah Curiga Kerajaan Agung Sejagat Hanya Penipuan

Raja Keraton Sejagat - ist
15 Januari 2020 15:47 WIB Newswire Sleman Share :

Harianjogja.com, SEMARANG--Polisi sudah menduga Kerajaan Agung Sejagat di Purworejo, Jateng hanya sebuah tipu-tipuan.

Keinginan Totok Santoso untuk membangun kerajaan baru bernama Kerajaan Agung Sejagat di Purworejo akhirnya kandas. Ia bersama Fanni Aminadia yang belakangan diketahui bukan istrinya keburu ditahan oleh pihak kepolisian.

Selasa (14/1/2020) malam, Totok dan Fanni ditangkap Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jateng di sekitar Wates.

Bersamaan dengan penangkapan tersebut, kediaman keduanya yang berada di kawasan Godean, Sleman juga dilakukan penggeledahan.

Seperti dikutip dari Antara, Kapolda Jateng Irjen Pol. Rycko Amelza Dahniel menyebut bahwa penyidik memiliki bukti permulaan yang cukup untuk menetapkan raja dan ratu Kerajaan Agung Sejagat tersebut sebagai tersangka.

Ia menyebut kedua tersangka memiliki motif untuk menarik dana dari masyarakat dengan menggunakan tipu daya.

"Dengan simbol-simbol kerajaan tawarkan harapan dengan ideologi kehidupan akan berubah. Semua simbol itu palsu," terangnya, Rabu (15/1/2020).

Motif penipuan Totok Santoso nyatanya sudah diprediksi oleh Kepala Kesbangpol DIY, Agung Supriyono.

Saat dihubungi Suara.com-jaringan harianjogja.com, Agung menyebut bahwa Kerajaan Agung Sejagat yang heboh tersebut punya indikasi penipuan.

"kalau dari pengalaman kami, organisasi atau mereka menyebutnya kerajaan itu ada indikasi penipuan, untuk cari duit lah motivasinya," ungkapnya.

Ia meyakini motif tersebut lantaran di wilayah DIY sempat beberapa kali muncul kejadian serupa.

"Iya di Jogja sendiri ada beberapa kali kami temui kasus serupa tapi ngga se-glamour seperti Kerajaan Agung Sejagat yang pakai kirab begitu. Biasanya mereka melakukan musyawarah besar gitu, nanti ujung-ujungnya ya penipuan organisasinya nyari duit," katanya.

Ia pun menghimbau agar masyarakat di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya untuk tak terbujuk tipu daya berkedok organisasi atau menyebut kerajaan baru seperti yang dilakukan Totok Santoso.

"Kami selalu komunikasi ke masyarakat juga untuk himbauan ini. Jangan sampai terbujuk hal-hal yang tidak wajar begitu," tandasnya.

Sumber : Suara.com