Advertisement
Inflasi DIY Terkendali, Sultan Jogja Paparkan Langkah Stabilitas Harga
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Inflasi tahunan di DIY masih berada dalam koridor sasaran nasional, namun menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, tekanan harga diperkirakan meningkat akibat lonjakan permintaan, mobilitas pemudik, dan dinamika pasokan pangan.
Hal ini diungkapkan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY 2026 di Hotel Royal Ambarrukmo, Jumat (13/2/2026). Menurutnya, tantangan utama bukan hanya menjaga angka inflasi tetap terkendali, tetapi juga memastikan stabilitas sosial dan kepastian ekonomi di tengah momentum musiman.
Advertisement
Sri Sultan memaparkan tujuh rekomendasi strategis pengendalian inflasi di DIY. Pertama, memperkuat rantai pasok dan menyusun neraca pangan daerah. Kedua, memastikan pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat DIY sebelum distribusi ke luar daerah. Ketiga, meningkatkan peran BUMD sebagai offtaker dan stabilisator pasokan.
Keempat, fokus pada komoditas ‘volatile’ seperti cabai rawit, cabai merah, bawang merah, telur, dan daging ayam. Kelima, BUMD perlu memodernisasi fasilitas penyimpanan dan memaksimalkan penggunaan cold storage. Keenam, intervensi pasar harus dilakukan dengan prinsip tepat lokasi, tepat waktu, dan tepat sasaran. Ketujuh, memperkuat keamanan pasar dan jalur distribusi melalui kolaborasi lintas daerah.
BACA JUGA
“Inflasi yang terkendali ibarat denyut halus dalam tubuh perekonomian. Bergerak namun tidak mengganggu, hadir namun tidak meresahkan. Sebaliknya, inflasi yang tidak terkendali bekerja secara senyap namun sistemik, menggerus daya beli masyarakat secara perlahan,” paparnya.
Dalam kesempatan yang sama, Sri Sultan memberikan apresiasi kepada seluruh unsur TPID dan pemangku kepentingan atas kerja keras menjaga stabilitas harga di DIY. Pencapaian ini tercermin dari predikat Juara 2 TPID Provinsi Berkinerja Terbaik Kawasan Jawa-Bali pada TPID Award 2025.
“Prestasi ini diharapkan menjadi dorongan agar koordinasi yang rapi dan langkah yang terukur terus berlanjut, terutama menghadapi dinamika Ramadhan dan Idul Fitri. Dengan kesiagaan dan tindakan tepat, stabilitas harga tetap terjaga dalam koridor wajar,” imbuhnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menambahkan HLM TPID ini merupakan bentuk kesiapan menghadapi Ramadhan dan HBKN Idul Fitri 1447 H. Menurutnya, inflasi DIY berada di angka 5,94% pada akhir 2025, lebih tinggi dibandingkan 5,4% pada akhir 2023.
“Pertumbuhan ekonomi DIY 2025 didorong permintaan domestik yang kuat, kenaikan UMP 6,5 persen, pembangunan infrastruktur, peningkatan sektor pariwisata, serta produktivitas pertanian pasca-El Nino,” ujarnya.
Sudibyo menjelaskan, jelang Ramadhan, tekanan inflasi meningkat seiring lonjakan konsumsi masyarakat. Perubahan struktur inflasi, terutama pada komoditas hortikultura, menjadi faktor tambahan yang mempengaruhi harga pangan.
“Penyumbang inflasi jelang HBKN antara lain bawang merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan daging ayam ras. Untuk mengantisipasi potensi risiko inflasi, penguatan pasokan dan stabilisasi harga menjadi langkah utama,” tambahnya.
Beberapa upaya oleh TPID DIY termasuk penguatan komunikasi efektif dari hulu hingga hilir, guna menjaga ekspektasi masyarakat terkait kepastian produksi, distribusi, dan pola konsumsi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








