BEDAH BUKU: Masyarakat Harus Manfaatkan Peluang Pembangunan Infrastruktur di DIY

Direktur PT. Solusi Bangun Indonesia Tbk, Agung Wiharto mengajak swafoto Direktur Pemasaran PT Waskita Beton Precast Tbk Agus Wantoro (kanan) dalam acara bincang-bincang di Radio Star Jogja, kompleks Kantor Harian Jogja, Jumat (17/1/2020). - Harian Jogja/Galih Eko Kurniawan
17 Januari 2020 20:42 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJAHarian Jogja menggelar seminar dan diskusi Roadshow Grow Fast Grow Fair dengan tema Membangun Infrastruktur DIY dan Jawa Tengah di Ruang Sidang Biru Lantai Tiga, Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik (FT) UGM, Sabtu (18/1/2020).

Seminar ini merupakan diskusi buku berjudul Grow Fast Grow Fair, Kiat Waskita Beton Tumbuh 5 Kali Lipat dalam 5 Tahun yang ditulis mantan jurnalis Bisnis Indonesia Lahyanto Nadie. Direktur PT. Waskita Beton Precast Tbk, Agus Wantoro, mengatakan pada dasarnya buku Grow Fast Grow Fair, Kiat Waskita Beton Tumbuh 5 Kali Lipat dalam 5 Tahun bermula dari ide pengalaman PT. Waskita Beton Precast Tbk yang diibartkan baru lahir lalu belajar jalan, sudah diminta lari, bahkan melompat, dan akhirnya tumbuh besar hingga lima kali lipat.

“Hal ini jangan hanya jadi cerita, generasi selanjutnya harus tahu dan menerapkan. Hasilnya harus lebih dari yang selam ini,” kata Agus, Jumat.

Menurut dia, diskusi ini terbuka untuk umum, dihadiri mulai dari praktisi, mahasiswa, pemerintahan, dan akan membahas masalah infrastruktur. “Semua umum dipersilahkan datang. Kami bisa berdiskusi masalah infrastruktur di Jateng-DIY, lebih spesifik masalah semen dan beton,” ujarnya.

Direktur PT. Solusi Bangun Indonesia Tbk, Agung Wiharto, mengatakan pada dasarnya pada kegiatan nanti akan mengenalkan PT. Solusi Bangun Indonesia Tbk yang merupakan bagian dari Semen Indonesia Group serta mengenalkan produk ke masyarakat. “Kami bersinergi [dengan PT. Waskita Beton Precast Tbk] karena sama-sama BUMN,” ujarnya.

Penasihat acara, Nugroho Nurcahyo, mengharapkan diskusi ini memberikan gambaran bagaimana arah pembangunan infrastruktur di DIY. “Sehingga masyarakat bisa bersiap menyambut perubahan-perubahan yang bakal terjadi, sekaligus menggali peluang dari proyek yang ada,” kata Nugroho, Jumat (17/1/2020).

Dia mengatakan meski tahun ini perekonomian nasional diprediksi tumbuh melambat, hal itu tak berlaku di DIY. Dalam empat tahun terakhir pertumbuhan ekonomi di DIY melebihi angka nasional. Megaproyek infrastruktur Yogyakarta Internasional Airport (YIA) mampu membuka pintu pertumbuhan ekonomi dengan kebutuhan infrastruktur lain. Oleh karena itu, tema diskusi yang berkaitan infrastruktur sangat relevan degan kondisi DIY saat ini.

Tahun ini YIA dioperasikan penuh, sehingga wilayah di sekitarnya membutuhkan infrastruktur pendukung. Banyak proyek infrastruktur untuk mendukung perpindahan bandara, terutama jalan, termasuk di dalamnya proyek jalan tol Jogja-Solo-Semarang (Joglosemar) yang dimulai tahun ini.

“Saya rasa prospek perkembangan infrastruktur ke depan selama interkoneksi ini dibangun dan bahkan setelah difungsikan, akan terus membuka potensi-potensi pembangunan sektor lainnya, seperti properti dan lainnya,” ucapnya.

Selain infrastruktur, masalah investasi pasar modal juga menjadi topik yang dibahas. Menurut Nugroho, investasi pasar modal disinggung dalam diskusi kali ini karena masyarakat Jogja inklusi keuangannya termasuk tinggi.  Pasar modal menjadi salah satu instrumen investasi bagi masyarakat umum yang perlu terus dikenalkan kepada khalayak sebagai bagian dari membentuk inklusivitas keuangan masyarakat DIY yang perekonomiannya tumbuh.

Dalam seminar, keynote speech akan disampaikan Ketua Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan FT UGM, Prof. Joko Sujono. Seminar juga menghadirkan pembicara Direktur PT Waskita Beton Precast Tbk, Agus Wantoro; Direktur PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, Agung Wiharto; penulis buku Grow Fast Grow Fair, Lahyanto Nadie; dan praktisi pasar modal, Hasan Zein Mahmud, dengan moderator Sutan Eries Adlin.

Ketua panitia seminar, Laila Rochmatin, menyatakan seminar ditargetkan diikuti 150 orang peserta. Berbagai fasilitas disiapkan mulai dari makan siang, sertifikat, goodie bag, buku dan power bank.

 “Untuk Februari kami juga menggelar acara serupa dengan tema Belajar Mengais Cuan dari Youtube Sambil Mengenal Saham. Seminar ini diharapkan mampu mengedukasi sekaligus memberi alternatif investasi gaya milenial,” ucap Laila.