Subsidi Elpiji 3 Kg Akan Dicabut, Ini Kekhawatiran Sri Sultan HB X

Sri Sultan HB X - Harian Jogja/Desi Suryanto
22 Januari 2020 19:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah berencana mencabut sebagian subsidi elpiji 3 kilogram (kg) sehingga penjualannya akan menyesuaikan harga pasaran. Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyatakan harga eceran tertinggi (HET) elpiji 3 kg atau dikenal dengan nama gas melon di DIY lebih murah dibandingkan dengan daerah lain. Distribusinya yang sulit dikontrol sering bocor atau tidak tepat sasaran dan merembes ke daerah lain.

Harga elpiji 3 kg selama ini berkisar antara Rp16.000 dan Rp20.000. Adapun harga elpiji 12 kg Rp139.000 dan Rp11.583 per kilogramnya. Jika subsidi gas melon dicabut dan menyesuaikan harga pasar, harganya akan naik sekitar Rp34.750.

Sultan mengatakan HET dihitung berdasarkan jarak distribusi antara ibu kota provinsi ke wilayah paling jauh. Tetapi, harga tersebut sangat susah untuk dikontrol.

“Kalau [soal] gas saya kira enggak ada masalah, hanya susahnya itu ngontrolnya, karena jarak Jawa Tengah dan Jogja itu beda. [Penentuan harga] Menghitungnya dari ibu kota, Jogja ke Kulonprogo, Jogja ke Gunungkidul itu paling jauh 40 kilometer. Kalau [dibandingkan dengan] Jawa Tengah, Semarang  ke Purworejo itu kan jaraknya beda,” kata Sultan di sela-sela acara di BPK DIY, Rabu (22/1/2020).

Lantaran transportasi di DIY lebih dekat, harga gas melon jelas akan lebih murah. Sementara, gas yang beredar di DIY bisa berpindah ke luar DIY dengan harga sama.

“Nah problem itu selalu di situ, karena perbedaan kebijakan di dalam ongkos transportasi, lha di situ saya khawatir berpindah [tidak tepat sasaran dari DIY ke Jateng], ini enggak pernah akan bisa selesai, berarti gas di Jogja itu lebih murah, karena ongkos transportasinya hanya 40 kilometer, kalau dari Semarang ke Purworejo kan bisa dua kali lipat,” ujarnya.

“Dari Jogja ngrembes [bocor ke daerah lain] enggak bisa diselsesikan, kalau [harganya] kita samakan [dengan] Jawa Tengah kan berarti masyarakat menikmati harga yang lebih tinggi, kan tidak mungkin,” ucap Sultan.

”Masalahnya ongkos angkut. Ongkos angkutnya beda, apa enggak bisa Purworejo mengisi gasnya dari Sentolo? Misalnya begitu, jadi ongkosnya enggak usah dari Semarang, tetapi kan Pertamina harus investasi.”