Pembangunan Markas Yon TP di Banyusoco Masih Tunggu Izin SG
Pembangunan Batalyon Teritorial Pembangunan di Banyusoco, Gunungkidul, diperkirakan paling cepat dimulai pada 2028 setelah izin lahan dan tahapan pembangunan te
Tumpukan cabai di salah satu kios milik pedagang di Pasar Argosari, Wonosari, Rabu (13/2/2019)./Harian Jogja-Rahmat Jiwandono
Harianjogja.com, WONOSARI - Harga jual cabai rawit di pasar tradisional Gunungkidul masih tinggi. Komoditas ini sempat menyentuh Rp90.000 per kilogram (kg), tapi pada Senin (27/1/2020) mulai turun dan dipasarkan dengan harga Rp80.000 per kg.
Salah seorang pedagang di Pasar Argosari, Wonosari, Ani mengatakan, rawit merah menjadi komoditas cabai paling mahal. Hal ini terlihat dari harga di pasaran yang menembus angka Rp80.000 per kg. Sedangkan untuk jenis lain, seperti cabai keriting merah dijual Rp50.000 per kg dan cabai keriting hijau Rp20.000 per kg.
“Memang paling mahal cabai rawit merah. Untuk saat ini harganya sudah mulai turun karena sempat menyentuh Rp90.000, tapi penurunnya belum seberapa karena harga masih tetap tinggi,” katanya kepada wartawan, Senin (27/1/2020).
Menurut dia, harga jual cabai sering berubah-ubah sehingga membuat pedagang maupun pembeli khwatir karena tidak ada patokan harga yang pasti. Ani menuturkan, harga jual sangat dipengaruhi dengan stok komoditas di pasaran. “Perubahan itu bisa hitungan jam. Harapannya kalau bisa harga bisa stabil sehingga ada kepastian dan tidak ada yang merasa dirugikan,” ungkapnya.
Disinggung mengenai mulai turunnya harga cabai rawit, Ani mengaku tidak tahu secara pasti. Meski demikian, dari sisi stok komoditas ini memiliki stok yang berlebih dibandingkan ketersediaan di hari-hari sebelumnya. “Mungkin karena libur imlek sehingga tengkulak tidak mengirim ke Jakarta dan stok dijual di pasaran lokal. Akibatnya ada ketersediaan stok dan membuat harga turun,” katanya lagi.
Hal senada diungkapkan oleh Harno, salah seorang pedagang di Pasar Semin. Dia pun berharap fluktuasi bisa ditekan sehingga harga cabai bisa dipasarkan dengan stabil. Harga yang naik turun membuat pedagang tidak berani menyimpan stok dengan banyak karena takut kejatuhan harga. “Kalau harga turun, jelas pedagang rugi,” ungkapnya.
Kondisi yang sama juga akan dialami pada saat harga naik terus. Menurut Harno, selain berkurangnya jumlah pembeli, pendapatan yang diperoleh dari berjualan tidak mencukupi guna membeli stok cabai untuk dijual di pasar. “Uangnya kan diputar terus. Mudah-mudahan ada kestabilan sehingga ada kepastian harga cabai,” katanya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Gunungkidul, Johan Eko Sudarto mengatakan, pemantauan di pasaran hanya komoditas cabai yang mengalami kenaikan. Khusus untuk cabai rawit idealnya di kisaran harga Rp45.000 per kilogram. “Kalau di atas harga itu sudah tinggi seperti sekarang ini,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pembangunan Batalyon Teritorial Pembangunan di Banyusoco, Gunungkidul, diperkirakan paling cepat dimulai pada 2028 setelah izin lahan dan tahapan pembangunan te
Pemkab Kulonprogo menggandeng UNY membuka program S2 jalur RPL bagi ASN yang dapat diselesaikan dalam waktu satu tahun.
Pemkot Jogja menargetkan seluruh reklame ilegal tuntas ditertibkan pada awal 2027. Satpol PP telah menertibkan 2.767 reklame insidental sepanjang 2026.
Kementerian Hukum menyiapkan sistem peradilan pidana terpadu untuk penanganan perkara kekerasan seksual, pelindungan anak, dan pekerja migran.
Mobil dinas Brimob dan KA Bandara mengalami kecelakaan di Sedayu, Bantul. Polda DIY memastikan tidak ada korban maupun gangguan operasional.
KPK menggeledah dua rumah pribadi Bupati Lombok Barat nonaktif Lalu Ahmad Zaini setelah memeriksa pendopo dalam penyidikan dugaan suap dan gratifikasi.