Warga yang Tergusur Tol Jogja-Solo Menolak Tawaran Relokasi dari Pemerintah

Ilustrasi jalan tol. - JIBI/Solopos/M. Ferri Setiawan
30 Januari 2020 17:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJAPemerintah lewat Satker Pelaksana Jalan Bebas Hambatan (PJBH) Tol Jogja-Solo (Joglo) sudah menawarkan relokasi kepada warga terdampak proyek tol. Namun tawaran relokasi itu ditolak oleh warga.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satker Pelaksana Jalan Bebas Hambatan (PJBH) Tol Jogja-Solo Totok Wijayanto mengatakan tidak masalah jika ada warga yang menginginkan direlokasi,

Hanya saja, jika relokasi jadi pilihan, warga terdampak tidak akan puas karena lokasi dan rumah yang dibangun tidak sesuai dengan keinginan warga. "Ada beberapa yang ingin direlokasi, tapi setelah saya jelaskan akhirnya mereka tidak mau," kata Totok tanpa merinci soal relokasi yang ditawarkan ke warga, Rabu (29/1).

Dia berharap agar masyarakat terdampak pembangunan jalan tol tidak takut ataupun khawatir akan pindah ke mana. "Jangan takut, warga terdampak tol nanti diberi ganti untung. Kalau belum dapat tempat atau lahan pengganti nanti Satker akan membantu tenaga dan mencarikan informasi lahan yang bisa dibeli," katanya.

Kepala Dukuh Sanggrahan Totok Dwiranto menjelaskan warga terdampak harus menyiapkan beban mental. Sebab tidak mudah bagi warga untuk mencari lahan pengganti. Kalau pun harus pindah, mereka harus menyiapkan proses adaptasi kembali. "Ini tentu akan menimbulkan beban pikiran bagi warga. Sebenarnya ada yang mengusulkan direlokasi saja ke TKD [tanah kas desa] tapi kan enggak mudah," ujarnya.

Bagi yang masih memiliki sawah, kehilangan rumah masih bisa diakali dengan membangun rumah di sawah. Hanya saja itu membutuhkan proses peralihan fungsi tanah dari tanah sawah menjadi tanah pekarangan. "Kami berharap agar warga diberi kemudahan saat mengajukan proses peralihan fungsi itu," katanya.

Senasib dengan Kepala Desa Tirtoadi Sabari, rumah Totok Dwiranto juga harus hilang akibat terdampak pembangunan tol Jogja-Solo.

Di Sanggrahan kata Totok, ada tiga RT yang terkena pembangun jalan tol. Meliputi RT 2, RT 3 dan RT 4. Rata-rata setiap RT terdapat sekitar 46 KK. "Kalau di RT 2 yang terdampak sekitar 20-an KK, kalau di RT 3 dan 4 lebih dari separuhnya. Rumah saya seluas 700 meter persegi juga ikut tergusur. Warga mendukung program pemerintah ini," kata Totok. 

Hal senada disampaikan Kepala Dusun Ketingan Supartinah. Dia menjelaskan dari sekitar 3.000 meter persegi lahan miliknya sekitar 1.500 meter persegi tergusur proyek tol. "Di Ketingan tidak ada fasilitas umum dan sosial yang tergusur proyek tol, kecuali satu makam leluhur dan masjid. Tapi kemungkinan tidak terkena," katanya.

Ia menyebut hingga saat ini warga Dusun Ketingan mendukung proyek tersebut dan belum memikirkan lebih jauh perihal harga tanah. Sebab saat ini, tahap sosialisasi masih sangat awal. Harga tanah terdampak per meternya pun belum dihitung. "Ya kalau minta, masyarakat mungkin mintanya banyak. Tanah di sini kurang lebih Rp2,5 juta sampai, untuk area tepi jalan," katanya.

Warga Ketingan, Ismail mengaku tak terlalu memikirkan soal aset keluarganya yang tergusur tol. Justru ia merasa kasihan kepada warga yang rumahnya terdampak pembangunan tol. "Kalau kami kan mayoritas yang hadir ini terdampak sawah ya. Kami prihatin bagi yang terdampak rumahnya, karena proses relokasi juga enggak mudah," ucapnya.

 Desain Baru

Totok menambahkan pengajuan desain terbaru jalan tol di simpang Monjali diharapkan pada Februari ada kepastian. Panjang jalan tol at grade di simpang Monjali sekitar 800 meter. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satker Pelaksana Jalan Bebas Hambatan (PJBH) Tol Jogja-Solo Totok Wijayanto mengatakan desain terbaru jalan tol di atas Ring Road sudah selesai dibuat. Hanya saja, saat ini desain tersebut masih berada di Pemerintah Pusat. Rencananya pekan depan diajukan ke Gubernur DIY Sri Sultan HB X. "Simpang Monjali nanti dibuat melingkar untuk mengubah jalan yang ada saat ini. Sebab yang ada saat ini dipakai untuk jalan tol. Namun nantilah biar Pusat nanti yang menyampaikan," katanya.

Secara desain, katanya, jalan tol yang dibangun secara elevated dibangun empat lajur. Dua lajur dibangun di sisi selatan Ring Road dan dua lajur sisi utaranya. Dia mengakui ada kesulitan yang nanti dihadapi, hanya saja Totok meyakini kesulitan tersebut akan ditemukan solusinya.

Disinggung soal keberadaan fly over Jombor dengan adanya tol Jogja-Solo, Totok memastikan keberadaan fly over Jombor tidak akan tergusur. Fungsi jalur tol berbeda dengan fly over Jombor. "Untuk detail teknisnya biar disampaikan oleh Pusat. Yang jelas selama proses sosialisasi ini kami belum menghadapi kesulitan," katanya.

Totok juga mengatakan untuk desain jalan tol ke Jogja-Kulonprogo sudah selesai. Hanya saja, proses sosialisasi diselesaikan setelah semua proses Jogja-Solo dan Jogja-Bawen selesai.