Lilin Pertanda Penerang Jalan

Pengurus Kelenteng Tjen Ling Kiong atau Kelenteng Poncowinatan, Jogja Margo./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
01 Februari 2020 05:22 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Setiap malam Tahun Baru Imlek, banyak umat yang menyalakan lilin di kelenteng. Ada lilin kecil dan ada pula yang besar. Lilin tersebut tak sekadar lilin atau sumber penerangan. Lilin memiliki makna yang lebih dalam.

Pengurus Kelenteng Tjen Ling Kiong atau Kelenteng Poncowinatan, Jogja Margo mengatakan ketika berdoa setiap jemaah bisa saja menyiapkan lilin yang dinyalakan pada malam Imlek. Lilin menjadi pertanda untuk menerangi jalan. "Dengan menyalakan lilin ada harapan apapun yang dijalankan mendapatkan kemudahan. Selain itu disiapkan pula persembahan seperti kue keranjang hingga buah-buahan agar semuanya membuahkan hasil yang manis," kata dia beberapa waktu lalu.

Untuk lilin, besarannya tergantung dari kemampuan masing-masing individu. Mulai dari lilin 10 kati atau seberat 6 kilogram (kg) seharga sekitar Rp250.000 hingga 3.000 kati seharga hingga Rp100 juta. Namun, bagi yang tidak mampu tidak ada kewajiban karena yang terpenting adalah niat.

Semakin berat sebuah lilin, semakin lama masa hidupnya. Ada yang sampai satu tahun, ada pula yang hanya bertahan dua minggu. Titik awal dinyalakan penerangan harapan ini dilakukan pada malam Imlek. Namun, ketika masa hidup lilin sudah selesai, bisa disambung dengan menyalakan lilin baru, jika mampu. "Tidak ada yang mewajibkan. Tetapi, kalau dia mampu lebih baik dilakukan. Begitu juga untuk dupa dan persembahan. Sesuai kemampuannya," kata dia.

Selain lilin ada pula dupa dengan berbagai ukuran. Dupa menjadi bagian penting dalam sembahyang. Asap dupa dipercaya sebagai kendaraan doa agar cepat sampai ke surga. Menurut Margo, asap akan selalu membumbung ke atas. Dengan menyalakan dupa, dipercaya doa akan tertuntun ke surga. Namun, lagi-lagi hal ini tergantung dari kemampuan masing-masing individu