AKULTURASI BUDAYA: Batik Tionghoa Simpan Berbagai Makna

Ketua III Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad, Afif Syakur menunjukan salah satu motif batik khas peranakan Tionghoa, di rumah peninggalan Bupati Yogyakarta keturunan Tionghoa di era Sri Sultan HB III, Tan Jin Sing , Selasa (4/2)./ Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo
06 Februari 2020 09:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Berbagai makna tertuang dalam motif-motif batik warisan peranakan Tionghoa, di Indonesia, yang masih ada hingga saat ini. 

Ketua III Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad, Afif Syakur mengatakan dalam motif batik peranakan Tionghoa banyak mengandung unsur flora, fauna, burung, naga, mega mendung yang telah berasimiliasi dengan budaya di Indonesia.

Afif mengatakan budaya Chinese mengenal Yin Yang atau hitam putih, seperti halnya dengan hidup manusia ada baik dan buruk yang terbentuk. Hal tersebut juga tertuang dalam motif-motif batik seperti Phoenix, Naga yang memberi makna kekuatan.

“Maknanya motif batik peranakan Tionghoa secara umum hakikatnya manusia hidup harus bijak sebagai bagian dari alam, ke depan melestarikan dan menjaga lingkungan agar bisa sejahtera,” ucap Afif, di sela-sela sarasehan batik Tionghoa, dalam acara pameran rumah peranakan di Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2020, Selasa (4/2).

Ia menyayangkan saat ini tidak banyak anak muda peranakan Tionghoa yang mewarisi hasil batik Tionghoa tersebut. Diharapkannya dengan adanya gelaran diskusi dan acara PBTY tersebut, dapat mewariskan salah satu warisan budaya tersebut. “Adanya pemilihan Koko Cici juga memperdalam mempelajari leluhur mereka. Kita akan senang peranakan mewarisi itu. Mereka punya budaya, hak mereka melestarikan,” katanya. 

Event PBTY 2020 memang sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada PBTY kali ini ada pameran barang benda keturunan Tionghoa yang diadakan, seperti yang diungkapkan Ketua Divisi pameran PBTY 2020, Agus Handoko pameran dilakukan di rumah peninggalan Bupati Jogja keturunan Tionghoa di era Sri Sultan HB III, Tan Jin Sing pada Minggu (2/2) – Sabtu (8/2). Berbagai kegiatan pun dilakukan saat pameran, selain sarasehan tentang batik Tionghoa, dalam pameran rumah perankan tersebut juga akan digelar berbagai kegiatan lain seperti pada, Kamis (6/2) akan ada Festival Dim Sum. Kemudian pada Jumat (7/2) ada peragakan dan sarasehan tata cara minum teh.