Kisah Pilu Perjalanan Mi Ayam Legendaris 'Bu Tumini'

Warung mi ayam 'Bu Tumini', Kota Yogyakarta, yang masih tutup setelah Bu Tumini, 64, meninggal dunia, Senin (10/2/2020). - Detikcom/Pradito Rida Pertana
11 Februari 2020 01:57 WIB Newswire Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Mi ayam 'Bu Tumini' belakangan menjadi perbincangan banyak orang, baik di dunia nyata maupun media sosial. Sebab, sang pemilik usaha legendaris itu meninggal dunia karena sakit beberapa hari yang lalu.

Kesuksesan warung mi ayam 'Bu Tumini' di Jogja ternyata melalui banyak perjuangan. Mulai dari menjadi produsen mi, menyewakan gerobak, cita rasa yang berubah karena suami Tumini meninggal, hingga dalam sehari hanya mampu menjual 30 porsi mi ayam.

Saat ditemui detikcom, anak pertama pemilik warung mi ayam 'Bu Tumini' Sari Rasa Jatiayu, Eko Supriyanto, 41, menjelaskan usaha tersebut berawal dari ayahnya, Suparman yang pernah belajar membuat mi dari saudaranya di Cirebon, Jawa Barat. Setelah mahir, ayahnya dan ibunya, Tumini, 64, membuka usaha produksi mi di Kotagede, Kota Jogja.

"Dulu tahun 1988-1989 kami cuma bikin mi, dan karena banyak yang menyewakan gerobak, kami ikut menyewakan gerobak. Apalagi saat itu punya kayu yang bisa dimanfaatkan untuk buat gerobak," kata Eko saat ditemui di rumah orang tuanya, Dusun Sawahan 5, Desa Jatiayu, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Senin (10/2/2020).

Akhirnya, Suparman dan Tumini memiliki 5-6 gerobak yang disewakan kepada para penjual mi ayam dengan tarif Rp500 per harinya. Hal itu sebagai strategi bisnis dalam memasarkan mi buatan Suparman.

"Yang disewakan hanya lima sampai enam gerobak untuk jualan pengecer mi [ayam] keliling. Karena saat itu kami hanya produksi mi dan mengajari cara masak mi kepada penjual keliling," ucapnya.

Karena telah memiliki cukup modal dari menyewakan gerobak dan berjualan mi, akhirnya Suparman dan Tumini mulai merintis usaha mi ayam pada tahun 1990-an. Eko menyebut, mereka menyewa sebuah tempat di Jalan Imogiri Timur, Kelurahan Giwangan, Umbulharjo, Kota Jogja.

"Tahun 90-an kami mulai mencoba jualan di Jalan Imogiri Timur nomor 187 dengan tekstur dan ciri khas mi sendiri, terus jualan mi [ayam] dengan ciri khas sendiri," katanya.

Ciri khas itu, kata Eko adalah mengedepankan kuah kental dengan kombinasi rasa manis dan gurih. Sedangkan untuk mi, merupakan hasil buatan sendiri. Eko menyebut, saat itu harga mi ayam buatan Suparman dan Tumini dibanderol dengan harga Rp250 per mangkuk.

"Pertama buka itu bisa habis [mi] sekilo, dua kilo, tiga kilo sampai lima kilo dalam sehari, kalau porsi jadi 28-30, dan pas Sabtu-Minggu bisa sampai 60 porsi. Ya lumayanlah, yang penting bisa untuk biaya sekolah saat itu," ucapnya.

"Dan dari dulu kuahnya sudah kental seperti itu. Karena ciri khas mi ayam kami itu manis, gurih, dan kuah kental," sambung Eko.

Eko menyebut saat awal-awal itu usaha keluarganya belum sesukses sekarang. Bahkan, ia pernah membantu kedua orang tuanya hingga tengah malam. "Ya tidak langsung ramai, kami dulu pernah jualan sampai jam 12 malam, tapi hanya sekali itu saja sampai jam 12 malam," katanya.

Pria murah senyum ini melanjutkan, usaha keluarganya itu sempat mengalami masa sulit, tepatnya saat ayahnya wafat pada tahun 1996. "Anjlok itu pas tahun 1996. Saat itu bapak tidak ada [meninggal dunia] karena tabrakan sama minibus di [Kecamatan] Patuk dan sempat dirawat di rumah sakit 12 hari, lalu akhirnya bapak berpulang," ucapnya.

"Terus ibuk saya [Tumini] menjaga [Suparman] di [rumah sakit] Bethesda, otomatis tidak ada yang jaga warung, hanya dipasrahkan saudara dan otomatis rasanya [mi ayam] kan berubah," imbuh Eko.

Namun, masa sulit itu berhasil ia lalui bersama keluarganya. Bahkan, saat ini mi ayam 'Bu Tumini' menjadi salah satu mi ayam legendaris di Jogja. "Dari situ selesai terus mulai bisa ngurusi usaha lagi dan alhamdulillah jalan lagi, mulai banyak pelanggan. Mungkin karena cocok sama masakannya dan getok tular [dari mulut ke mulut pelanggan]," katanya.

Saat ini, warung mi ayam 'Bu Tumini' telah maju pesat. Bahkan, dalam sehari mampu menghabiskan puluhan kilogram ayam dan mi. "Kalau sekarang [dalam sehari] sekitar ratusan [porsi]," katanya.

Bu Tumini telah meninggal dunia pada Jumat (7/2/2020) malam. Jenazahnya dimakamkan di kampung halamannya Desa Jatiayu, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul keesokan harinya. Sedangkan warung Mie Ayam Tumini masih tutup hingga hari ini dan rencananya akan buka lagi pekan depan.

Sumber : Detik.com