Juru Rawat Joglo Labuhan Harapkan Biaya Perawatan Rutin

Juru rawat Joglo Labuhan, Untoro, tampak melintasi joglo, Senin (10/2/2020). Ia mengharapkan ada dana perawatan rutin untuk Joglo Labuhan dari jawatan terkait. - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
11 Februari 2020 04:57 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Juru rawat Joglo Labuhan di Pantai Glagah, Kapanewon Temon mengeluhkan tidak adanya biaya perawatan bangunan yang digunakan saat upacara adat Hajad Dalem Labuhan Pura Pakualaman itu.

Untoro, juru rawat tersebut, menuturkan bahwa selama 20 tahun dirinya menghabiskan hidupnya menjadi juru rawat Joglo Labuhan tidak pernah mendapatkan biaya perawatan bangunan. Ia hanya mendapatkan pengganti jasanya saat upacara adat berlangsung. Hal ini ia rasa semakin menyulitkan kesejahteraannya lantaran selama ini pekerjaannya juga serabutan.

"Bangunan ini nggak pernah ada biaya perawatan rutin, misalnya dicat ulang setahun sekali, itu nggak ada," kata pria yang akrab disapa Jojon itu, Senin (10/2/2020).

Mantan nelayan ini berharap ada perhatian dari Dinas Pariwisata Kulonprogo, Dinas Kebudayaan Kulonprogo, maupun pihak Paku Alam untuk bangunan ini. Sebab, Joglo Labuhan, mushola, kamar mandi, dan satu bangunan kosong yang kini ditempatinya itu tak pernah mendapatkan dana perawatan kecuali ketika dipugar.

"Bangunan Joglo ini sekitar tujuh tahun lalu direnovasi, tapi kemudian ditinggal begitu saja. Seharusnya ada dana perawatan rutin, bisa tiap bulan atau tiap tahun, sehingga nggak pakai uang saya sendiri," katanya.

Ia mengaku setiap bulan harus membayar biaya listrik bangunan ini dari kantongnya sendiri. Padahal, beberapa kali ia harus memperbaiki pompa air yang mati, eternit jebol, dan berbagai perawatan lainnya. "Kalau usuk patah, juga perlu manggil orang yang bisa," tuturnya.

Untuk itu, begitu mendengar rencana revitalisasi Joglo Labuhan dan pesanggrahan Paku Alam di Temon, ia menaruh harapan besar setelah renovasi akan dilanjutkan perawatan bangunan secara rutin. "Sebab kalau ada laporan wisata di sini gimana-gimana, saya juga ikut malu," kata Jojon.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulonprogo Untung Waluya mengakui jika status juru rawat itu belum tercatat secara administrasi di kelembagaan dinas. Meski begitu, ia memastikan setelah Joglo Labuhan dan pesanggrahan direvitalisasi, juru rawat bangunan itu akan diatur di dalam administrasi.

"Kami masih memastikan wewenang bangunan itu ada di bawah Dinpar atau Dinbud, selama ini kami hanya memfasilitasi saat upacara adat," kata Untung.