Pentas Wayang Cakruk di Kelurahan Tahunan Kisahkan Problematika Masyarakat

Pementasan Wayang Cakruk yang dimainkan oleh seorang dalang diiringi musik gamelan dan sinden Jawa./Harian Jogja-ST19 - Siti Halida Fitriati
02 Maret 2020 09:47 WIB Siti Halida Fitriati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Dinas Sosial DIY menyelenggarakan pentas Wayang Cakruk sebagai media penyuluhan. Melalui lakon Cakruk, berbagai kritik sosial ditawarkan, salah satunya ialah bentuk toleransi dalam rangka mewujudkan kerukunan antarwarga.

Wayang cakruk pertama kali digagas oleh Kepala Dinas Sosial, Untung Sukaryadi Pada Desember 2015 lalu, yang kemudian dijadikan sebagai media penyuluhan oleh Dinas Sosial DIY. Kali ini, Wayang Cakruk hadir dalam rangka memeriahkan rangkaian acara Jogja Heboh dengan tema "The Jumputan" di Kelurahan Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, untuk yang kedua kalinya, Minggu (1/3/2020).

Menurut Kepala Bidang Penanganan Fakir Miskin, Agus Setyano, tidak ada yang salah dengan wayang lainnya, akan tetapi Wayang Cakruk dipandang lebih efektif. Sebab, Lakon Cakruk langsung menyasar pada titik persoalan dan problematika masyarakat, tidak bertele-tele, dan dengan waktu pementasan yang relatif singkat.

"Pertunjukan wayang lain dipandang tidak akan efektif untuk memotret persoalan yang dituju. Dilihat dari durasi wayang kulit yang harus ngebyar semalam suntuk, dan baru pada goro-goro yaitu ketika punakawan muncul, persoalan sosial muncul, karena itu sudah ada pakemnya. Dengan menggunakan Wayang Cakruk, persoalan tersebut bisa relatif teratasi," kata Agus.

Wayang Cakruk merupakan adaptasi dari wayang orang, yang kemudian dibuatlah potret manusia-manusia cakruk. Cakruk sendiri artinya pos ronda. Dimana pos ronda merupakan tempat bagi masyarakat untuk berkumpul, dengan segala persoalan yang ada di antara mereka. Sehingga Wayang Cakruk bisa dikatakan sebagai potret kehidupan masyarakat yang tengah berkumpul di pos ronda (cakruk).

"Kenapa Wayang Cakruk, karena memotret kehidupan masyarakat yang berkumpul di cakruk atau pos ronda dengan segenap persoalan yang ada di antara mereka," ujar Agus.

Problematika Sosial

Lakon Cakruk yang tampil di malam acara "The Jumputan", Kelurahan Tahunnan ini menyajikan pementasan terkait masalah lingkungan. Namun, semangat persatuan dan kesatuan antarmasyarakat menjadi modal utama dalam mencapai kesejahteraan.

Kampung Harapan, itulah nama kampung yang berada dalam pementasan wayang Cakruk. Kampung ini dihuni oleh penduduk yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai pemulung, hingga buruh kasar. Setiap masyarakat hidup secara individual, lingkungan sekitar menjadi terabaikan. Kumuhnya desa menjadi alasan utama bagi pemerintah setempat untuk melakukan penggusuran.

Kabar penggusuran pun sampai ke telinga penduduk. Kampung harapan yang berada di bantaran sungai akan tinggal nama. Warga menjadi resah dan bingung, sebab mereka tak punya tempat tinggal selain di kampung tersebut.

Hingga kemudian, datanglah Fadliya, selaku Pendamping Sosial Program Keluarga Harapan. Ia mengajak remaja di kampung tersebut untuk melakukan perubahan. Akhirnya, masyarakat secara bergotong royong mulai menghias dan mengecat tembok di berbagai sudut kampung.

Tak disangka, Kampung Harapan sering mendapat kunjungan, terutama dari para wisatawan. Kampung Harapan yang dulunya terkenal sebagai kampung kumuh kini berubah menjadi kampung wisata dengan nama Kampung Warna Obar Abir.

Gerakan membangun kampung wisata terus bergulir. Masyarakat memiliki penghasilan baru tidak hanya menjadi pemulung dan buruh kasar, tetapi bergerak ke sektor yang lebih menjanjikan dan menguntungkan. Di sisi lain, kabar gembira datang dari pemerintah setempat bahwa penggusuran tak jadi dilakukan.

Semangat kebersamaan, saling menghargai, rasa senasib sepenanggungan, itulah yang menjadi modal utama untuk memperoleh kesejahteraan sosial. Seperti yang dikatakan oleh Sugiarti, selaku Lurah Tahunan.

"Adanya wayang Cakruk memberikan pesan-pesan moral tentang kebersamaan, pentingnya gotong royong membangun wilayah bersama, karena tanpa sinergitas antara stakeholder dengan tokoh masyarakat sehingga tidak mungkin untuk bisa mewujudkan kampung tahunan yang maju," ujar Agus ketika pementasan wayang tengah berlangsung.

Sementara di Kelurahan tahunan sendiri polemik permasalahan lingkungan semacam ini juga masih terjadi. Seperti yang disampaikan oleh Sugiarti bahwa meskipun Kelurahan Tahunan bukan termasuk kategori desa kumuh, akan tetapi masih banyak warga yang tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Hal ini lah yang mendorong nya untuk terus melakukan gerakan peduli lingkungan. Kini, lahan yang dulunya dipenuhi sampah telah dibersihkan dan menjadi kebun tanaman jahe, cabe, dan berbagai jenis sayuran lainnya.

"Pastinya Tahunan bukan daerah kumuh akan tetapi masih ada warga masyarakat dan mahasiswa yang kurang peduli dalam menjaga kebersihan lingkungan," kata Sugiarti.