Bronjong Tanggul Serang di Giripeni Ambles

Kondisi bronjong talud Sungai Serang di Dusun Kedungpring, Kalurahan Giripeni, Kapanewon Wates, yang amblas, Jumat (6/3/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
06 Maret 2020 11:27 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Bronjong sepanjang 50 meter dengan ketinggian tujuh meter yang berfungsi sebagai pelindung tanggul Sungai Serang di Dusun Kedungpring, Kalurahan Giripeni, Kapanewon Wates, tiba-tiba amblas, pada Jumat (6/3/2020) pagi.

Ruslan, 60, warga yang tinggal tak jauh dari lokasi kejadian mengungkapkan, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 05.00 WIB. Saat itu, Ruslan yang tengah bersantai di depan rumahnya dikagetkan dengan suara gemuruh disusul getaran seperti gempa.

Setelah ditelusuri, suara dan getaran tersebut ternyata bersumber dari amblasnya bronjong tanggul Sungai Serang yang berjarak sekitar 50 meter dari belakang rumahnya. "Saya cek ternyata tanggul sudah kaya gitu [amblas]," ujar Ruslan, ditemui awak media, Jumat pagi.

Total panjang bronjong yang dibangun di kawasan tersebut mencapai 100 meter. Sementara yang amblas sepanjang 50 meter dengan kedalaman hingga tujuh meter.

Dikatakan Ruslan, amblasnya bronjong ini kemungkinan akibat tak kuat menahan arus Sungai Serang pada Kamis (5/3/2020) yang cukup deras. "Kebetulan kan kemarin seharian hujan, terus arusnya cukup deras, debit air juga banyak banget, bahkan hanya berjarak kurang dari dua meter dari atas tanggul, nah kemungkinan itu yang bikin Bronjong rusak, dan baru amblas hari ini," ucapnya.

Peristiwa amblasnya bronjong ini ternyata bukan kali pertama terjadi. Ruslan mengungkapkan sebelumnya bronjong tersebut sempat amblas pada 2019. Kemudian Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) melakukan perbaikan dan baru selesai pada awal tahun ini. "Sudah dua kali amblas mas, baru beberapa bula lalu lho ini selesai diperbaiki, kok ya amblas lagi," ungkapnya.

Selain bronjong yang rusak, badan tanggul yang terbuat secara alami dari tanah itu juga mengalami longsoran. Imbasnya, lebar di titik tertinggi tanggul yang semula berkisar dua meter dan biasa digunakan warga sebagai jalan alternatif, kini tidak bisa dilewati.

Tergerusnya tanggul akibat amblasnya bronjong itu membuat warga sekitar ketar-ketir. Pasalnya tanggul tersebut berfungsi untuk menghalau aliran Sungai Serang yang kerap meluap hingga menggenangi permukiman penduduk saat musim penghujan. Apabila tidak segera dibangun bronjong baru, dikhawatirkan tanggul tersebut bisa jebol.

"Kalau ini dibiarkan lama-lama tanggul bisa jebol, semoga lah bisa segera diperbaiki, tapi ya kalau bisa lebih kokoh [bronjongnya] biar gak amblas lagi," kata Ruslan.

Ditemui di lokasi yang sama, Penanggung Jawab (PJ) Lurah, Kalurahan Giripeni, Parmin menyatakan akan segera melaporkan peristiwa ini kepada BBWSSO dan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulonprogo selaku Instansi yang terlibat langsung dalam pembangunan bronjong tersebut.

"Akan segera kami laporkan, dan kami harap dalam pembangunan nanti, bisa lebih memperhitungkan kondisi lingkungan, soalnya ini sudah dua kali, baru dua bulan selesai diperbaiki udah amblas lagi," ujarnya.

Di samping itu pihaknya juga akan melaporkan hal ini ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo. BPBD diharapkan bisa memberikan bantuan karung pasir guna membangun tanggul sementara.

"Ini perlu segera ditanggulangi, kalau [tanggul] sampai jebol nanti bisa banjir, tidak hanya Giripeni yang terdampak, tapi juga Kalurahan lain seperti Bendungan, atau bahkan Kapanewon tetangga seperti Panjatan," ucapnya.