Guru Besar UGM: Jangan Sembarangan Konsumsi Klorokuin, Ini Efeknya

Foto ilustrasi. - Reuters/Srdjan Zivulovic
23 Maret 2020 17:17 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Guru Besar Farmasi UGM Prof Zullies Ikawati, menganjurkan agar masyarakat tidak secara sembarangan mengonsumsi obat klorokuin meski obat tersebut dianggap bisa mengobati penyakit COVID-19.

Sebab, menurutnya obat tersebut termasuk obat dengan kategori keras dan memiliki efek samping.

”Klorokuin adalah obat keras yangg juga ada efek sampingnya. Harus digunakan dengan resep dokter. Sebaiknya digunakan bagi mereka yang sudah positif kena atau suspek,” kata Zullies melalui rilis Humas UGM, Senin (23/3/2020).

Seperti diketahui, baru-baru ini Pemerintah tengah memesan dua macam obat untuk Covid-19, yaitu klorokuin dan favipiravir (Avigan). Menurut Zullies, Klorokuin awalnya adalah obat antimalaria yang kemudian digunakan juga sebagai imunosupresan pada pasien dengan penyakit autoimun, seperti lupus atau artritis rematoid.

Belakangan, klorokuin juga disebut memiliki efek antiviral, dan bahkan dipakai untuk mengatasi COVID-19 di China.

“Klorokuin memang dilaporkan memiliki efek antiviral yang kuat terhadap virus SARS-CoV. Obat ini bekerja dengan mengikat reseptor seluler angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) yang merupakan tempat masuknya virus SARS-CoV, sehingga menghambat masuknya virus ke dalam sel,” ucapnya.

Selain itu, kata Zullies, Klorokuin mampu meningkatkan pH endosomal yang menyebabkan hambatan replikasi virus, karena replikasi virus membutuhkan suasana asam.

Namun demikian, sebagai obat dengan kategori obat keras harus digunakan dengan resep dokter dan sebaiknya digunakan untuk yang sudah positif atau tersangka.

“Bila tidak terkena lalu mengkonsumsi maka efeknya tidak kecil seperti gangguan penglihatan, dan terjadinya abnormalitas pada jantung,” ujarnya.

Ia menyarankan agar masyarakat juga tidak ikut-ikutan menimbun dua macam obat tersebut. Sebaliknya ia menganjurkan untuk tetap menjaga kesehatan dengan meningkatkan system imun daya tahan tubuh melalui menjaga kebersihan dan berolahraga secara teratur di rumah.

”Sering cuci tangan, hindari kerumunan, jaga jarak dan jangan stress. Tetap waspada tapi tidak panik,” ujarnya.

Sola khasiat mengonsumsi jahe merah untuk mencegah COVID-19 menurutnya belum bisa dibuktikan karena belum bisa dibuktikan karena diperlukan penelitian lebih lanjut, “Efektif atau tidaknya belum bisa dibuktikan karena penyakitnya saja baru berlangsung. Khusus untuk jahe merah masih dalam penelitian. Jadi untuk efektif atau tidaknya harus dicoba dulu,” katanya.

Untuk mencegah terkena virus corona ini ia menganjurkan untuk mengkonsumsi makanan bergizi dan melakukan olah raga secara teratur.

“Sebaiknya melakukan olahraga di rumah bisa dilakukan dengan senam atau olah raga ringan minimal 30 menit sehari,” paparnya.

Terkait adanya pasien yang bisa sembuh dari Corona namun tidak sedikit yang meninggal setelah dinyatakan positif terkena virus Corona ini menurutnya kematian lebih banyak dijumpai pada pasien yang lanjut usia serta memiliki penyakit penyerta seperti jantung, hipertensi, diabetes. “Mungkin kondisi itu yang memperberat infeksinya,” katanya.

Sementara pasien corona yang bertahan dan berhasil sembuh, ia menilai pasien tersebut mendapatkan terapi pada saat yang tepat dan memiliki sistem imun yang lebih baik sehingga lebih cepat mengeliminasi virusnya. (*)