Hari Pertama Pimpin BGN, Sudaryono Minta Tinggalkan Persoalan Hukum
Sudaryono meminta jajaran BGN fokus membenahi tata kelola MBG dan tidak larut dalam persoalan hukum yang tengah diproses aparat.
Pedagang tahu menunjukkan dagangan tahunya yang mengalami penyusutan ukuran pada Rabu (25/3/2020) di Pasar Wates, Kapanewon Wates. /Harian Jogja-Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, KULONPROGO - Dampak kenaikan harga kedelai impor mulai dirasakan pedagang tahu. Pedagang tahu di Pasar Wates, Sri Lestari merupakan salah satu yang merasakan dampaknya.
Ditemui saat berjualan pada Rabu (25/3/2020), Sri terpaksa mengurangi ukuran tahunnya karena harga kedelai impor yang mencapai Rp9.000/kg.
Langkah pengecilan ukuran tahu terpaksa dilakukan Sri untuk menyiasati harga bahan utama pembuatan tahu yakni kedelai yang mahal. "Bila satu nampan tahu biasanya dipotong menjadi 14x14 potong, saat ini potongan itu diperbanyak menjadi 14x15 potong tahu per nampan," jelas Sri.
Sri juga terpaksa mengurangi takaran kedelai dalam pembuatan tahunya. Meski tidak signifikan mengurangi takaran, Sri mengaku hal itu harus dilakukan karena harga kedelai yang tinggi. "Harganya masih tetap saya pertahankan Rp500/biji, tapi ukuran tahunya diperkecil dan takaran kedelainya saya kurangi," ucapnya.
Strategi yang tidak jauh beda juga dilakukan pedagang tahu Pasar Wates lainnya, Painem. Dia terang-terangan mengaku mengaku mengurangi takaran kedelai hingga sekitar 16% dari biasanya. Pengurangan tersebut juga diikuti dengan ukuran tahu yang lebih tipis ketimbang biasanya.
Namun Painem mengatakan karena mengurangi takaran kedelai yang tidak sedikit, pihaknya juga melakukan penurunan harga. "Jika dengan takaran normal harganya Rp500/biji, karena takarannya saya kurangi harga juga berkurang menjadi Rp400/biji," kata Painem.
Painem juga menerapkan cara lain untuk mempertahankan pelanggan tahunya di tengah harga kedelai yang melambung ini. Selain membuat tahu dengan ukuran kecil, Painem juga membuat tahu berukuran normal seperti biasanya. Namun, tahu ukuran normal ini dia naikkan harganya. "Kalau tahu dengan takaran kedelai biasanya, saya naikan harganya dari Rp500/biji menjadi Rp60p/biji," jelas Painem.
Meski ukurannya menciut, baik Sri maupun Painem mengaku tidak ada pengaruh terhadap penjualan. Para pembeli khususnya pelanggan tetap umumnya mengerti dengan kondisi seperti ini. "Kalau langganan tetap saya tetap membeli tahu dengan ukuran yang disesuaikan, ukuran kecil," kata Painem.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sudaryono meminta jajaran BGN fokus membenahi tata kelola MBG dan tidak larut dalam persoalan hukum yang tengah diproses aparat.
Bantul menargetkan surplus beras 100.000 ton pada 2026 dengan perluasan tanam padi hingga 35.000 hektare meski konsumsi beras warga menurun.
Diskominfo Kulonprogo kini dipimpin oleh Bambang Sutrisno yang memiliki reputasi selama 30 tahun sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Bamsut sapaan akrabnya memi
Menkeu Purbaya menyebut Presiden Prabowo segera meluncurkan insentif baru kendaraan listrik berupa PPnBM 100% dan PPN DTP 40%.
UAD melantik dekan baru untuk periode kepemimpinan berikutnya guna memperkuat transformasi kampus dan menghadapi akreditasi institusi 2027.
PT Bank Syariah Indonesia (Persero)Tbk (BSI) bersama Danantara Indonesia mempercepat penguatan ekonomi kerakyatan dengan membangun ekosistem pemberdayaan UMKM