Pelaku Usaha DIY Tertekan, Stimulus Dinanti
Rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS, KADIN Sleman mendesak stimulus ekonomi karena biaya produksi naik dan daya beli masyarakat melemah.
Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Banyak orang yang masih nekat datang ke Pantai Parangkusumo, Bantul, pada malam hari di tengah pandemi Corona. Orang-orang yang datang dari luar Bantul tersebut kemudian diminta pulang oleh Satpol PP DIY.
Kepala Satpol PP DIY Noviar Rachmad menyatakan upaya edukasi dan sosialisasi secara terpadu antara Satpol PP, TNI, dan kepolisian dilakukan bersama-sama sejak Senin (13/4/2020). Aparat menemui sejumlah kerumunan di beberapa titik di Jogja dan meminta kepada pihak yang berada di lokasi tersebut agar segera membubarkan diri.
“Setiap ada kerumunan kami datangi dan kami minta untuk membubarkan diri. Memang selama sepekan ini masyarakat kembali keluar rumah,” ujar dia, Selasa (14/4/2020).
Keramaian ini muncul di tengah meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19 di DIY. Pada Minggu (12/4/2020) dan Senin, terdapat tujuh tambahan kasus positif Covid-19 per hari di provinsi ini. Hingga Senin kemarin, sudah ada 55 kasus positif infeksi Corona yang tercatat di DIY.
Awal pekan ini, tim gabungan berpatroli pada pagi dan malam. Senin pagi, tim menyasar kawasan Jombor Sleman, Jalan Magelang, Terminal Giwangan, sejumlah pasar. Pada malam hari, tim menyisir kawasan Maguwoharjo, Jalan Kaliurang, Malioboro hingga kawasan Pantai Parangkusumo, Bantul.
Di Parangkusumo tersebut, kata dia, banyak orang dari luar daerah yang datang secara sembunyi-sembunyi.
“Tetapi oleh petugas kemudian diminta segera pulang,” ujar dia.
Padahal, pandemi Covid-19 berdampak pada banyak sektor, termasuk para pengelola dan pekerja hiburan malam di sekitar Parangkusumo, Dusun Mancingan, Desa Parangtritis, Kretek, Bantul.
Ketua Paguyuban Pengelola Hiburan Malam Mancingan Dedi Nugraha mengatakan sejak adanya pembatasan aktivitas di luar rumah, semua tempat hiburan malam tutup total. Sebagian pengelola dan pekerjanya juga pulang kampung, “Ada juga yang tidak pulang kampung,” kata Dedi, saat dihubungi Minggu (12/4/2020).
Bagi yang pulang kampung, kata dia, mereka tidak diperkenankan kembali ke wilayah Mancingan sampai penyebaran Covid-19 mereda. Adapun yang memutuskan untuk tetap di Mancingan saat ini tidak ber aktivitas. Sebagian mulai beralih pekerjaan menjadi penjual makanan untuk menukupi kehidupan sehari-hari.
“Ada yang jualan makanan,” kata dia.
Sejauh ini, menurut Dedi, belum ada bantuan pemenuhan kebutuhan baik dari paguyuban maupun dari pemerintah. Ia menyebut pengelola dan pekerja di tempat hiburan malam yang tidak pulang kampung jumlahnya sekitar 30an orang.
Sementara itu, berdasarkan pendataan dari warga setempat, jumlah warga pendatang yang tinggal di Mancingan mencapai lebih kurang 256 orang yang berasal dari berbagai daerah. Dari jumlah tersebut yang tidak memiliki kartu tanda penduduk (KTP) dan KTP mati sebanyak 96 orang. Jumlah 96 orang itu sebagian besar adalah bekerja di tempat hiburan malam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS, KADIN Sleman mendesak stimulus ekonomi karena biaya produksi naik dan daya beli masyarakat melemah.
Kemenpar dorong BBWI 3B untuk sebar wisata Bali Utara–Banyuwangi, target 1,2 miliar perjalanan wisata 2026.
BNN Bantul mewanti-wanti peredaran pil sapi di SMP dan SMA. Edukasi, skrining, dan rehabilitasi diperkuat untuk melindungi pelajar.
Penjualan motor listrik naik hingga empat kali lipat setelah kenaikan harga BBM. Tren tukar tambah motor bensin ke motor listrik ikut meningkat.
PP Tunas jadi langkah perlindungan anak digital, Meutya Hafid soroti risiko platform dan pentingnya ruang aman.
Masyayikh NU tekankan adab Munas 2026, tolak perubahan AHWA, dan minta pesantren tetap jadi pusat organisasi.