Biar Hemat APD, Dosen UGM Kembangkan Bilik Swab

Bilik swab yang dikembangkan Dosen Pertanian UGM supaya menghemat APD oleh tenaga medis. - Ist/Dok UGM
18 April 2020 02:17 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Berangkat dari keresahan terhadap sulitnya pemenuhan kebutuhan alat pelindung diri (APD) untuk tenaga medis yang merawat pasien Covid-19 dan melakukan tes swab, dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat bilik untuk memudahkan pengambilan swab pada pasien.

Dosen Departemen Mikrobiologi Pertanian Fakultas Pertanian UGM, Jaka Widada menuturkan dengan bilik swab ini, tenaga kesehatan tidak perlu menggunakan APD karena sudah dilengkapi penyaring udara berstandar HEPA. Proses pengambilan swab ke pasien dilakukan dengan sarung tangan yang menonjol keluar.

Jaka berharap bilik ini dapat menghemat penggunaan APD saat pengujian swab serta mengurangi limbah medis. Selain itu, penggunaan bilik ini juga memberikan kenyamanan bagi tenaga medis, sekaligus tetap memperhatikan keamanan pada tenaga kesehatan dan pasien.

“Tenaga kesehatan hanya perlu pakai masker sehingga tidak terbebani dengan pakaian hazmat yang berat dan panas,” kata Jaka pada Jumat (17/4/2020).

Inspirasi pembuatan bilik ini muncul setelah beberapa waktu lalu ia melihat video tenaga medis di Korea Selatan yang sedang melakukan uji swab pada pasien.

Setelah dikonsultasikan dengan istrinya yang merupakan dokter spesialis THT dan terbiasa menguji swab, ia kemudian mengembangkan bilik ini. Terlebih, Jaka juga mengaku punya latar belakang keilmuan mikrobiologi sehingga familier dengan virus.

Ia menjelaskan bilik itu didesain dengan ukuran 90x90 cm dengan tinggi 2 meter. Bilik ini menggunakan bahan alumunium panel komposit (APC) dengan ketebalan 3 mm. Di bagian depan, bahan yang digunakan ialah kaca setebal 6 mm dengan dua lubang yang dipasangi sarung tangan panjang berstandar medis dilengkapi handscoon sekali pakai untuk tangan petugas saat melakukan swab.

Jaka berharap bisa mengembangkan bilik dengan bahan stainless steel yang tergolong lebih ideal, namun terkendala harga bahan yang mahal. Meski begitu, ia tetap mengupayakan kualitas bilik ini sesuai standar medis. Di dalam bilik juga dilengkapi amplifier dengan speaker untuk sarana komunikasi dengan pasien. Dengan empat roda di bawahnya, bilik ini dinamis dan bisa dipindahtempatkan.

Dana untuk produksi bilik ini disebut berasal dari donasi masyarakat sekaligus grup Whatsapp Sambatan Jogja (Sonjo) yang diinisiasi dosen FEB UGM. Satu bilik ini bisa menghabiskan biaya produksi mencapai Rp8 juta. Ia juga menggandeng UMKM untuk pembuatan bilik ini.

Saat ini, kapasitas produksi masih terbatas 10-15 unit tiap minggu. “Kami akan segera membuat 5 bilik swab lagi yang akan didistribusikan ke sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19,” ujarnya.

Dikatakannya, inovasi ini telah dilirik Gugus Tugas Covid-19 Nasional untuk kerjasama supaya produksi massal. “Saya harap bilik swab ini mampu menginspirasi generasi muda untuk berinovasi untuk penanggulangan Covid-19,” harapnya.