3 Klomtan Peroleh Bantuan Pengolah Pupuk Organik

Gerakan tanam kedelai yang digelar di Petak 92 Resor Pengelolaan Hutan (RPH) Banyusoca, Kecamatan Playen, Rabu (11/3/2020). - Istimewa/Dokumen DPP Gunungkidul
20 April 2020 22:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul memberikan bantuan unit pengolah pupuk organik (UPPO) kepada tiga kelompok tani (klomtan). Diharapkan bantuan ini bisa mendukung upaya petani dalam memaksimalkan potensi pertanian yang dimiliki.

Kepala DPP Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, mengatakan ada tiga kelompok yang mendapatkan bantuan, masing-masing Kelompok Tani Karangjambu, Dusun Peron dan Kelompok Tani Karangrejo, Dusun Sawahan 2, Desa Bleberan, dan Kelompok Tani Ngudi Rejeki, Desa Bandung. “Tiga bantuan semuanya diberikan di wilayah Kecamatan Playen,” kata Bambang kepada wartawan, Senin (20/4/2020).

Menurut dia, pengelolaan pupuk organik sejalan dengan potensi ternak yang dimiliki Gunungkidul. Sebagai gudang ternak, tidak ada masalah terkait dengan bahan baku karena bahan utama pembuatannya didominasi oleh kotoran hewan. “Bahannya tidak ada masalah karena bisa diambil dari kotoran ternak milik warga,” katanya.

Adapun bantuan yang diberikan terdiri dari kandang sapi komunal, rumah kompos, kantor UPPO, mesin dan motor roda tiga untuk pengangkutan. Keberadaan unit pengolahan ini diharapkan bisa memenuhi kebutuhan pupuk organik yang terus meningkat.

Menurut dia, produksi pupuk organik tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan anggota kelompok, tetapi juga bisa dipasarkan kepada petani sehingga ketergantungan terhadap pupuk kimia bisa ditekan. “Untuk awal produksi diharapkan pemasaran untuk petani di sekitar desa, jika sudah jalan bisa dipasarkan lebih luas lagi,” katanya.

Keberadaan pupuk organik sangat dibutuhkan karena membantu dalam upaya penyuburan lahan pertanian. “Kalau tanahnya subur, maka produktivitas lahan bisa lebih baik dan dampaknya terlihat pada masa panen,” katanya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengatakan saat ini para petani mulai menanam untuk musim tanam kedua. Dia mengimbau kepada petani agar tidak fokus menanam padi. Pasalnya, diprediksi curah hujan mulai berkurang seiring pergantian musim dari penghujan ke kemarau. “Jangan hanya padi, tetapi bisa menanam komoditas lain seperti kacang hijau atau kedelai,” katanya.