Terimbas Corona, Kondisi Pembatik di Kulonprogo Memprihatinkan

Ilustrasi batik. - Bisnis Indonesia/Rachman
21 April 2020 18:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Pengusaha batik di Kulonprogo saat ini menghadapi ancaman gulung tikar, karena selama pandemi COVID-19, penjualan batik mereka turun drastis.

Salah satunya dialami Sinar Abadi Batik (SAB) yang berada di wilayah Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah. Sebelum pandemi corona, dalam sebulan SAB bisa memproduksi sekitar 1.000 lembar kain batik jenis cap dan tulis.

Sementara harga yang dipatok untuk satu lembar kain berkisar Rp 150.000 sampai Rp1 juta. Dengan jumlah produksi dan harga segitu, omzet UMKM ini dapat mencapai minimal Rp15 juta per bulan.

Namun, sejak adanya wabah corona, kondisi keuangan SAB perlahan mulai oleng. Kini SAB hanya bisa memproduksi 400 sampai 500 lembar kain batik, dengan omzet tak sampai Rp15 juta. "Sejak pertengahan Maret kemarin, omzet kami turun drastis," ujar pemilik SAB Agus Fathurrohman, saat ditemui di galeri batik SAB, Selasa (21/4/2020).

Kondisi tersebut memaksa Agus, merumahkan sebagian karyawannya. Beberapa tenaga tetap diminta bekerja tapi menggunakan sistem shift, satu minggu masuk satu minggu libur.

Untuk menarik minat konsumen, SAB memberi diskon sebesar 25 sampai 30 persen untuk setiap pembelian satu lembar kain batik. Di samping itu, UMKM ini juga mulai merambah ke produksi masker berbahan sisa kain motif batik. "Ini cara kami untuk bertahan," ucap Agus.

Selain SAB, kondisi serupa juga menimpa usaha batik milik Bayu Permadi. Bayu merupakan pemilik rumah produksi Batik Sembung di Dusun Sembungan, Kalurahan Gulurejo, Lendah. Rumah produksi ini menyediakan batik motif kontemporer, kombinasi warna alam, serta batik Geblek Renteng yang merupakan ciri khas batik Kabupaten Kulonprogo.

Sebelum corona mewabah, Bayu dibantu belasan perajin yang bekerja untuknya, mampu memproduksi ratusan batik dalam sehari. Batik-batik ini dijual dengan kisaran harga mulai dari Rp150.000 hingga Rp500.000.

"Tapi sekarang lagi anjlok karena corona, sebagian karyawan saya juga terpaksa dirumahkan, beberapa ada yang diminta kerja lagi karena kemarin baru ada pesanan cukup banyak," ujar Bayu.

Sementara itu, Gito Ciblek, yang juga perajin batik di Lendah turut mengalami hal sama. Mirisnya, per April, ia sudah tak memproduksi batik karena sepinya pembeli. Sekarang Gito hanya menjual batik dari stok yang tersedia. "Kami manfaatkan sistem online, syukurlah bulan ini setidaknya bisa jual 30an kain," ujar Gito.

Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perdagangan (Diperindag) Kulonprogo, Dewantoro mengatakan wabah corona memang berdampak terhadap kondisi perekonomian produsen batik setempat. Dari hasil pemantauan jawatannya, sebanyak 25 kelompok perajin batik yang tersebar di sejumlah kapanewon mulai merumahkan karyawanya. Apabila wabah ini tak kunjung usai, Dewantoro khawatir, para perajin batik terancam tak punya penghasilan.