Hasil Penelusuran, Ini Penyebab Tingginya Hama Wereng pada Tanaman Padi di Galur

Petani di Kulonprogo membakar lahan tanaman padi yang diserang hama wereng. - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
06 Mei 2020 14:27 WIB Catur Dwi Janati Kulonprogo Share :


Harianjogja.com, KULONPROGO- Total 179,4 hektare lahan padi di Kulonprogo terserang wereng cokelat. Dari jumlah tersebut tingkat serangan wereng cokelat pada tanaman padi beragam. Kapanewon Galur menjadi salah satu wilayah terparah oleh serangan wereng cokelat di Kulonprogo.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, Aris Nugraha menyebutkan ada beberapa penyebab meluasnya serangan wereng cokelat di berbagai wilayah Kulonprogo. Salah satu yang disoroti Aris adalah jenis varietas yang ditanam petani. "Menurut penelusuran kami, masih ditemukan varietas non-tahan wereng yang ditanam petani," jelas Aris yang ditemui pada Selasa (5/5/2020).

Sebenarnya petani melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) telah memberikan beberapa anjuran varietas yang ditanam beserta kriterianya. Aris mengatakan salah satu kriteria yang ditanam haruslah tahan wereng atau agak tahan wereng. "Masalahnya dari temuan kami yang ditanam malah peka terhadap wereng," jelasnya. Padahal peka menurut Aris artinya rentan terhadap wereng.

Penggunaan varietas bukan sesuai anjuran disinyalir karena harga yang lebih murah. Namun Aris juga mengatakan, penggunaan varietas yang tidak tahan wereng dikarenakan warga ingin menyasar varietas yang produktivitas nya tinggi meski harganya lebih mahal.

Aris mengatakan sebenarnya telah dianjurkan kepada petani untuk menanam varietas yang berbeda tiap massa tanam. Hal itu untuk mencegah keturunan dari wereng di satu tanam adaftif pada masa berikutnya. Namun hal itu sering kali juga tidak dilakukan.

Selain penggunaan varietas tidak tahan wereng, penanaman yang tidak serentak juga menyebabkan problematika lain. Bila dalam satu hamparan memiliki umur yang berbeda wereng berpotensi besar akan bermigrasi. Sehingga siklus hidupnya tidak terputus karena makanan wereng selalu ada.

Aris menjelaskan dari beberapa lahan yang puso, sayangnya tidak ada petani mengikuti Asuransi Usaha Teknik Padi (AUTP). Padahal biaya asuransi hanya Rp3.600/1000m2 atau Rp36.000/hektare. Nanti bila suatu saat terjadi puso oleh bencana atau serangan hama, petani akan mendapatkan asuransi sebanyak Rp6 juta/hektare.

"Padahal Rp3.600 itu kan kaya dua batang rokok saja, tapi banyak petani yang tidak mau asuransi, kalau sudah terjadi puso seperti ini tidak bisa mendapatkan biaya keringanan," ujarnya.

Salah satu petugas Pengendali Organisme Penggangu Tanaman (POPT) Kulonprogo, Ngadiran mengatakan ada beberapa penyebab tingginya serangan wereng cokelat di Kapanewon Galur. Menurutnya suhu dan kelembaban wilayah Galur saat ini mendukung untuk tumbuh kembang wereng. Ngadiran menambahkan, ledakan populasi hama tidak dibarengi jumlah musuh alami. "Musuh alami malah banyak yang mati karena penggunaan pestisida," jelasnya.

Ngadiran juga membenarkan bahwa menurut fakta di lapangan banyak varietas non-tahan wereng yang ditanam. Hal itu menyebabkan serangan wereng di tahun ini cukup parah.

Sementara itu terkait pembakaran tanaman padi di Kapanewon Galur, Aris mengatakan hal itu memang dibenarkan untuk memutus siklus hidup wereng cokelat. Pembakaran maupun pembabatan adalah salah satu cara eradikasi dalam pengendalian organisme pemggangu tanaman. Pihaknya kini mewaspadai beberapa wilayah yang masih masuk pada massa tanam kedua.

"Kapanewon Wates dan Kapanewon Temon masuk dalam pengawasan kami karena masih massa tanam kedua, kami akan memperketat pengawasan agar serangan wereng tidak parah," jelasnya.