Kembali ke Sleman Juni Ini, Ribuan Santri Wajib Bawa Surat Bebas Covid-19

Ilustrasi - Freepik
01 Juni 2020 15:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Santri yang akan kembali ke pesantren diminta membawa surat keterangan sehat bebas Covid-19 untuk mencegah klaster baru penyebaran virus Corona dari pesantren.

Ketua PCNU Sleman KH. Ismail S. Ahmad mengatakan berdasarkan jadwal kegiatan pendidikan di kalangan pesantren, ribuan santri akan kembali ke wilayah Sleman pada Juni ini. Mereka yang kembali diminta melengkapi surat keterangan sehat dan bebas Covid-19 dari daerah asal. "Kami sudah berikan sosialisasi ini kepada seluruh pesantren yang berafiliasi dengan Nahdatul Ulama," kata Ismail kepada Harian Jogja, Senin (1/6/2020).

Menurut Ismail, seluruh pesantren di wilayah Sleman juga sudah menyiapkan protokol kesehatan penanganan Covid-19 selama di dalam pesantren, seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Protokol  itu sudah dibahas dengan seluruh Satgas Covid-19 NU Sleman. "Seluruhnya sudah disiapkan untuk menghadapi new norma,” kata Ismail.

Satu pesantren yang tergolong kecil di Sleman, katanya, rata-rata memiliki 150 santri. Ada juga pesantren yang memiliki 500 orang santri, bahkan pesantren seperti Sunan Pandanaran Sleman memiliki 7.000 lebih santri. Total pesantren yang berafiliasi dengan NU di Sleman tercatat 142 pesantren dengan puluhan ribu orang santri. "Kami sudah sampaikan ke seluruh pesantren agar santri yang kembali dilengkapi dengan surat keterangan sehat dan bebas Covid-19," katanya.

Jika ada santri yang tidak membawa surat keterangan sehat dan bebas Covid-19, kata Ismail, mereka tidak diperbolehkan masuk ke pesantren. Seluruh pesantren juga diminta melengkapi dan menambah fasilitas cuci tangan, sabun dan hand sanitizer.

Ismail mengatakan tidak ada kenaikan biaya pendidikan di pesantren. Dia mengatakan, implementasi new normal di pesantren masih sebatas inisiatif dari Satgas Covid-19 PCNU dan belum dibahas dengan Satgas Covid-19 Sleman.

"Pesantren mesti tombok karena tidak ada kenaikan biaya pendidikan. Meskipun kami sudah mendapatkan bantuan dari Kemenag tetapi ke depan kalangan pesantren tetap membutuhkan masker, sabun, dan hand sanitizer untuk mencegah virus Covid-19," ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengatakan Pemkab Sleman berupaya terus menekan kasus penyebaran virus Covid-19. Dinkes memberikan perhatian khusus bagi kembalinya santri-santri ke pondok pesantren. Mahasiswa atau calon mahasiswa yang masuk ke Sleman wajib membawa surat keterangan bebas Covid-19, sedangkan aturan untuk kalangan santri yang akan kembali ke pesantren belum diputuskan. "Kalangan pesantren termasuk yang jadi pertimbangan kami, tapi [konsep aturannya] belum matang," katanya.

Jubir Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Gus Azka Sya'bana mengatakan selama ini Ponpes Sunan Pandanaran berupaya menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh bagi santri melalui media daring.

"Kami masih menunggu instruksi pemerintah jika nanti pesantren diaktifkan lagi. Kami selalu mengikuti arahan dari pemerintah. Siap untuk menjalankan dengan mekanisme dan protokol tertentu," ujarnya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Sleman Sa'ban Nuroni masih menunggu instruksi teknis dari Pemerintah Pusat tentang kapan diaktifkannya kembali pondok pesantren sekaligus kebijakan apa yang bisa memfasilitasi para santri kembali menempuh pendidikan. "Untuk pengaktifan kembali pondok pesantren masih menunggu instruksi teknis dari Pusat, juga masih dalam proses koordinasi dengan berbagai pihak," kata Sa'ban.