Pembukaan Objek Wisata Harus Dikaji Matang

Wahana flyboard di Pantai Baron. - IG @flyboardbaron
01 Juni 2020 21:37 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Menjelang penerapan new normal, sejumlah objek wisata mulai bersiap menyambut pelancong. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Dewi Irawaty, mengingatkan agar pembukaan objek wisata benar-benar dikaji secara matang.

 Dewi berharap jangan sampai pembukaan ini malah menjadi tempat penyebaran virus Corona yang lebih luas. “Untuk saat ini masih sangat riskan dan rawan terjadi penyebaran,” kata Dewi kepada wartawan, akhir pekan lalu.

 Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan karena lokasi wisata menjadi salah satu tempat berkumpulnya banyak orang yang berasal dari berbagai daerah. Menurut dia, di waktu normal masih banyak masalah terkait dengan penyelenggaraan wisata mulai dari kemacetan hingga pengunjung di kawasan pantai yang tidak mengindahkan imbauan petugas untuk tidak bermain di area berbahaya.

 Berbagai permasalahan inilah yang menjadi dasar agar wacana pembukaan objek wisata dikaji dengan matang sehingga tidak menjadi klaster penyebaran Corona baru. “Itu yang harus diperhatikan sehingga pelaksanaannya bisa benar-benar baik dan bukan malah menimbulkan masalah baru,” katanya.

 Disinggung mengenai kehidupan new normal, Dewi mengakui bahwa kebijakan ini belum sepenuhnya bisa diterapkan. Meski demikian, ada beberapa hal yang bisa dilakukan seperti pemakaian masker, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan lain sebagainya. “Yang jelas tempat-tepat umum harus menyediakan fasilitas serta melaksanakan protokol kesehatan, misalnya tempat warung makan dan toko-toko. Jika protokol belum bisa diterapkan, maka masih sangat riskan terjadi penularan,” katanya.

 Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul, Asti Wijayanti, mengatakan jajarannya mulai mempersiapkan standar operasional prosedur (SOP) untuk pembukaan destinasi wisata. Menurut dia, SOP ini sangat dibutuhkan agar pembukaan objek bisa berlangsung aman sehingga tidak menjadi penyebab penyebaran Corona. “Masih dirumuskan,” katanya.

 Asti menjelaskan pembukaan objek wisata harus mengacu pada standar protokol kesehatan pencegahan Corona. Selain menyediakan fasilitas cuci tangan untuk pengunjung, Dispar berencana menyediakan klinik untuk pemeriksaan. “Harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya sehingga saat dibuka benar-benar aman,” katanya.

 Menurut Asti, pembuatan tempat cuci tangan dianggarkan dalam APBD. Namun sebelum anggaran bisa dicairkan, para pelaku wisata bisa ikut berpartisipasi dalam pembuatan. “Yang sederhana saja karena yang terpenting bisa digunakan untuk cuci tangan,” katanya.