Advertisement

Tekan Stunting di Bantul, Edukasi Remaja Jadi Fokus Utama

Kiki Luqman
Sabtu, 10 Januari 2026 - 03:37 WIB
Abdul Hamied Razak
Tekan Stunting di Bantul, Edukasi Remaja Jadi Fokus Utama Ilustrasi anak/anak mengukur tinggi badan. / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL—Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Bantul dinilai perlu dimulai jauh sebelum seorang anak dilahirkan. Masa remaja disebut menjadi fase paling krusial karena menentukan kesiapan kesehatan calon orang tua di masa depan.

Isu tersebut mengemuka dalam Seminar Pejabat Program Edukasi Remaja Sehat dan Hebat yang digelar di Srandakan, Kamis (8/1/2026). Kegiatan berlangsung secara luring dan daring dengan peserta pengurus OSIS, PMR, UKS dari SMA/SMK/MAN se-Bantul, serta peserta dari Malaysia yang bergabung melalui telekonferensi.

Advertisement

Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Agus Tri Widiyantara, menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan, melainkan indikator kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang. Dampaknya meluas pada kesehatan, kecerdasan, produktivitas, hingga daya saing bangsa.

“Pencegahan stunting tidak dimulai saat bayi lahir. Remaja adalah calon orang tua. Apa yang mereka pahami dan lakukan hari ini akan menentukan kualitas generasi berikutnya,” ujarnya, Jumat.

Agus mengungkapkan, prevalensi stunting Bantul pada 2025 naik menjadi 9,05%, menjadi peringatan bahwa intervensi perlu diperkuat sejak bangku sekolah. Edukasi remaja disebut jauh lebih strategis dibandingkan hanya menyasar ibu hamil dan balita.

Ia menegaskan pentingnya keberlanjutan program setelah seminar. Edukasi yang diberikan harus diterjemahkan menjadi aksi nyata melalui kampanye remaja sehat, edukasi sebaya, kolaborasi dengan puskesmas dan kader kesehatan, hingga penguatan peran UKS dan PMR.

Sementara itu, Suyani, Kaprodi Kebidanan Sarjana dan Profesi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (Unisa), memaparkan penyebab stunting berasal dari banyak faktor, mulai dari pengasuhan yang kurang tepat, keterlambatan layanan kesehatan, minimnya akses pangan bergizi, hingga persoalan sanitasi.

“Anemia pada remaja putri menjadi salah satu faktor risiko utama stunting. Perilaku hidup sehat sejak remaja—termasuk pola makan bergizi, aktivitas fisik, dan tidak merokok—sangat menentukan,” jelasnya.

Suyani menambahkan bahwa remaja memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Melalui edukasi teman sebaya, posyandu remaja, serta kebiasaan hidup bersih dan sehat, risiko stunting dapat ditekan sejak hulu.

Data Dinkes Bantul menunjukkan tantangan kesehatan remaja masih besar. Sekitar 22% remaja mengalami anemia. Di sisi lain, perilaku konsumsi sehat masih rendah: banyak yang tidak sarapan, minim konsumsi sayur dan buah, serta lebih memilih makanan cepat saji.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

OTT DJP Jakarta Utara, KPK Tangkap Delapan Orang

OTT DJP Jakarta Utara, KPK Tangkap Delapan Orang

News
| Sabtu, 10 Januari 2026, 12:57 WIB

Advertisement

Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest

Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest

Wisata
| Jum'at, 09 Januari 2026, 18:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement