Siswa SLB Bina Siwi Bantul Juara LKSN 2026, Anas Unggul di Tata Busana
Anas Vianto, siswa SLB Bina Siwi Bantul, meraih juara I LKSN 2026 cabang tata busana setelah menjadi wakil DIY di tingkat nasional.
Ilustrasi anak-anak mengukur tinggi badan. - Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Bantul dinilai perlu dimulai jauh sebelum seorang anak dilahirkan. Masa remaja disebut menjadi fase paling krusial karena menentukan kesiapan kesehatan calon orang tua di masa depan.
Isu tersebut mengemuka dalam Seminar Pejabat Program Edukasi Remaja Sehat dan Hebat yang digelar di Srandakan, Kamis (8/1/2026). Kegiatan berlangsung secara luring dan daring dengan peserta pengurus OSIS, PMR, UKS dari SMA/SMK/MAN se-Bantul, serta peserta dari Malaysia yang bergabung melalui telekonferensi.
Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Agus Tri Widiyantara, menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan, melainkan indikator kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang. Dampaknya meluas pada kesehatan, kecerdasan, produktivitas, hingga daya saing bangsa.
“Pencegahan stunting tidak dimulai saat bayi lahir. Remaja adalah calon orang tua. Apa yang mereka pahami dan lakukan hari ini akan menentukan kualitas generasi berikutnya,” ujarnya, Jumat.
Agus mengungkapkan, prevalensi stunting Bantul pada 2025 naik menjadi 9,05%, menjadi peringatan bahwa intervensi perlu diperkuat sejak bangku sekolah. Edukasi remaja disebut jauh lebih strategis dibandingkan hanya menyasar ibu hamil dan balita.
Ia menegaskan pentingnya keberlanjutan program setelah seminar. Edukasi yang diberikan harus diterjemahkan menjadi aksi nyata melalui kampanye remaja sehat, edukasi sebaya, kolaborasi dengan puskesmas dan kader kesehatan, hingga penguatan peran UKS dan PMR.
Sementara itu, Suyani, Kaprodi Kebidanan Sarjana dan Profesi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (Unisa), memaparkan penyebab stunting berasal dari banyak faktor, mulai dari pengasuhan yang kurang tepat, keterlambatan layanan kesehatan, minimnya akses pangan bergizi, hingga persoalan sanitasi.
“Anemia pada remaja putri menjadi salah satu faktor risiko utama stunting. Perilaku hidup sehat sejak remaja—termasuk pola makan bergizi, aktivitas fisik, dan tidak merokok—sangat menentukan,” jelasnya.
Suyani menambahkan bahwa remaja memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Melalui edukasi teman sebaya, posyandu remaja, serta kebiasaan hidup bersih dan sehat, risiko stunting dapat ditekan sejak hulu.
Data Dinkes Bantul menunjukkan tantangan kesehatan remaja masih besar. Sekitar 22% remaja mengalami anemia. Di sisi lain, perilaku konsumsi sehat masih rendah: banyak yang tidak sarapan, minim konsumsi sayur dan buah, serta lebih memilih makanan cepat saji.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anas Vianto, siswa SLB Bina Siwi Bantul, meraih juara I LKSN 2026 cabang tata busana setelah menjadi wakil DIY di tingkat nasional.
Donald Trump kembali mengancam Iran dengan operasi militer jika diplomasi nuklir gagal. Simak 4 ancaman terbaru Trump dan dampaknya bagi Selat Hormuz.
Pemkab Sleman bersama Forum TJSP menyalurkan bantuan Rp6,7 miliar melalui Gebyar TJSP Merdeka 2026 untuk beasiswa, sembako, modal usaha, bantuan disabilitas
Menteri Hukum Supratman Andi Agtas menyebut koruptor dapat dijatuhi hukuman mati sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia.
Pemerintah mulai mempercepat langkah antisipasi terhadap potensi ancaman keamanan siber seiring perkembangan teknologi komputasi kuantum.
Korban gempa Kolombia bertambah menjadi 190 orang. Sebanyak 1.679 orang terluka dan ratusan masih terjebak di bawah reruntuhan.