Advertisement
Edutrip Maggot di Kampung Cokrodiningratan Jogja, Warga Olah Sampah
Edutrip maggot di Kampung Cokrodiningratan Jogja ajak warga olah sampah organik dan anorganik jadi bernilai ekonomi. - Istimewa.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Kampung Wisata Cokrodiningratan (Kasaningrat) Jogja menggelar edutrip pengolahan sampah berbasis maggot dan bank sampah untuk mendorong kesadaran warga mengelola sampah secara mandiri. Program ini dikemas sebagai pembelajaran langsung yang menggabungkan edukasi lingkungan, kepedulian sosial, dan pengenalan potensi kampung wisata kepada generasi muda.
Ketua Kampung Cokrodiningratan, Anwar Surwantoro, menjelaskan kegiatan tersebut dirancang sebagai pengalaman belajar yang aplikatif. Peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga praktik langsung pengolahan sampah organik dan anorganik.
Advertisement
Dalam edutrip itu, peserta mengikuti workshop pengolahan sampah organik menggunakan maggot serta pengelolaan sampah anorganik melalui bank sampah. Pihak penyelenggara memaparkan pemanfaatan maggot untuk mengurai limbah sisa dapur secara efektif.
“Pemanfaatan maggot sebagai solusi pengelolaan sampah organik yang efektif dan berkelanjutan,” katanya, Senin (23/2/2026).
BACA JUGA
Anwar menuturkan, pengolahan sampah organik dengan maggot menjadi terobosan di wilayah tersebut. Selama ini, tabungan bank sampah lebih banyak berasal dari sampah anorganik. Melalui budidaya maggot, warga kini mulai dapat “menabung” sampah organik yang sebelumnya terbuang percuma.
Program tersebut mulai dirintis pada 2024 dengan sistem terpusat di satu lokasi. Setelah melalui proses pembelajaran dan uji coba selama satu tahun, budidaya maggot dikembangkan ke rumah-rumah warga.
“Meskipun sempat ada tantangan karena sebagian warga merasa geli atau khawatir bau, program ini terus berkembang,” katanya.
Uji coba awal melibatkan delapan warga dan kini telah diikuti puluhan rumah tangga. Panen maggot dilakukan setiap dua minggu sekali, lalu hasilnya dikumpulkan melalui bank sampah untuk dijual. Sebagian keuntungan dimanfaatkan untuk membeli bibit baru. Hingga saat ini, budidaya tersebut telah beberapa kali panen.
Dalam workshop tersebut, peserta juga mempraktikkan langsung pengolahan sampah organik menggunakan maggot. Mereka diajak melihat lokasi budidaya maggot di Kampung Cokrodiningratan untuk memahami proses penguraian limbah secara menyeluruh.
Selain itu, peserta diajak mengolah sampah anorganik menjadi gantungan kunci. Kegiatan ini menghadirkan kader bank sampah setempat yang membimbing proses daur ulang hingga menghasilkan produk kreatif.
Ketua Bank Sampah Dadi Mulyo, Fitrilati, menilai sampah anorganik memiliki potensi ekonomi jika dikelola dengan tepat. Ia menyebut bank sampah di wilayahnya telah mengolah limbah anorganik menjadi produk yang dapat digunakan kembali dan memiliki nilai jual.
“Melalui kegiatan ini peserta diajak mengolah sampah anorganik menjadi produk kreatif yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” katanya.
Menurutnya, edutrip ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan kesadaran lingkungan masyarakat. Kampung Cokrodiningratan kini tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi juga berkembang menjadi pusat edukasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang mendorong partisipasi aktif warga dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Nawang Senja Jadi Spot Ngabuburit Favorit di Pantai Glagah
Advertisement
Berita Populer
- Pendidikan Khas Kejogjaan Ditargetkan Masuk Semua Sekolah DIY
- Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu, Petani Gunungkidul Panen Senyum
- Lima Pasar Sleman Jadi Lokasi Grebeg Takjil Ramadan
- DIY Ajukan Dana Rp400 Miliar untuk Perbaikan Jalan Provinsi
- Perempuan Ditemukan Meninggal di Kasihan Bantul, Polisi Ungkap Fakta
Advertisement
Advertisement








