557 Orang di 6 Mal di Jogja Jalani Rapid Test

Foto ilustrasi. - ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
10 Juni 2020 18:17 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Rapid Diagnostic Test (RDT) acak kembali digelar Pemkot Jogja. Setelah menyisir wilayah pasar tradisional, RDT acak kini sasar mal.

Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Heroe Poerwadi mengatakan Sebanyak 557 sampel dari enam mal diperiksa pada RDT acak kali ini. "Adapun enam mal yang diambil sampel dalam RDT acak ini meliputi Galeria, Gardena, Jogjatronik, Lippo, Malioboro dan Ramai," terang Heroe pada Rabu (10/6/2020).

Menyangkut jumlah dan lokasi pengambilan sampel, Heroe mengatakan hal tersebut telah ditentukan dari Tim Epidemiologi UGM. "Misal kenapa jumlah sampel yang diambil lebih banyak dari RDT acak pasar, itu sepenuhnya ketentuan dari Tim Epidemiologi UGM," ujarnya.

Menurut Heroe tingkat potensi di pasar lebih besar, tetapi tingkat interaksinya lebih kuat dari pada di mal. Dia menambahkan mal dinilai jauh lebih cepat dalam menjalankan protokol kesehatan pencegahan Covid-19, sehingga untuk mendapatkan sampel yang memadai dibutuhkan jumlah yang banyak.

"RDT acak mal dilakukan dua hari, ada tiga mal yang pelaksanaan tesnya di mal, sementara tiga lainnya melakukan tes di puskesmas terdekat," terang Heroe. Lebih lanjut Heroe mengatakan karateristik pasar sampelnya cenderung heterogen. Sementara di mal, karena ketatnya penerapan protokol sampel lebih homogen.

Sama seperti RDT acak pasar tradisional, tes hanya dilakukan sekali. Bila sampel dinyatakan reaktif maka akan menjalani isolasi shelter untuk kemudian diuji Swab. Dalam RDT acak, sampel yang diambil merupakan karyawan manajemen mal dan karyawan pelaku usaha dalam mal [tenant]. "Prinsipnya sama, diambil sampel pekerja dulu, kalau ada yang positif baru tracing pengunjungnya," jelasnya.

Sebelumnya RDT acak dilakukan Pemkot Jogja di 10 pasar tradisional di Kota Jogja. Heroe menerangkan dari 250 sampel yang pedagang yang menjalani RDT sebanyak tiga orang pedagang dinyatakan reaktif. Ketiga orang tersebut selanjutnya menjalani karantina di shelter untuk kemudian diuji Swab. "Dua pedagang asal Kota Jogja menunjukkan hasil negatif dari hasil Swab, sementara satu pedagang asal Sleman masih menunggu informasi hasil Swab pedagang yang bersangkutan," ujar Heroe.

Hasil RDT acak yang dilakukan pasar tradisional masih berupa data jumlah pedagang reaktif, bukan hasil analisis. Heroe menerangkan untuk mencapai konklusi dari hasil survei yang dilakukan, Tim Epidemiologi UGM perlu data keseluruhan RDT acak. Selain RDT acak pasar tradisional dan RDT acak mal, pengambilan sampel masih akan dilakukan pada Kafe dan Restoran. "Penentuan lokasi RDT acak berikutnya di kafe dan restoran butuh waktu, berapa jumlah kafe, berapa jumlah restoran, sampel kriteria seperti apa yang akan diambil," jelasnya.

Dijelaskan Heroe dari hasil analisis yang dilakukan Tim Epidemiologi UGM, nantinya bisa dijadikan rekomendasi Pemkot Jogja dalam menentukan kebijakan kedepan. "Dari hasil RDT acak ini, ahli epidemiologi bisa menunjukkan kesimpulan apakah angka kasus yang landai di Jogja ini bisa dipercaya atau ada sesuatu yang tidak terdeteksi layanan kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit," jelasnya. Dia menambahkan RDT acak ini dilakukan Pemkot Jogja untuk mengetahui kondisi sebaran Covid-19.