Bersiap New Normal, Pejalan Kaki di Pedestrian Malioboro Diatur

Pengunjung kawasan Malioboro menjalani segenap protokol kesehatan pencegahan Covid-19 di kawasan Malioboro. Pengunjung diwajibkan membawa masker, cuci tangan sebelum masuk kawasan, pengecekan suhu, hingga mengisi data diri menggunakan QR Code. Aturan pengunjung diwajibkan mengisi data QR Code ini mulai diberlakukan pada Kamis (11/6/2020). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
12 Juni 2020 06:07 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJAKawasan Malioboro terus diperketat menyusul maraknya pelanggar protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yang puncaknya terjadi pada akhir pekan lalu. Setelah tindakan pengusiran ditetapkan dan pengecekan masker di jalan masuk Malioboro, kini Pemkot Jogja melakukan simulasi arus pelintas di jalur pedestrian.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro, Ekwanto menerangkan simulasi arus pejalan kaki dilakukan dengan mengatur jalur pedestrian sisi timur hanya diperbolehkan untuk pelintas dari arah utara ke selatan dan pedestrian sisi barat hanya diperbolehkan untuk pelintas dari sisi selatan ke utara. "Simulasi bertujuan agar para pengunjung tidak saling berpapasan, penerapan itu mulai berlaku pada Kamis (11/6/2020) pukul 13.00 WIB," jelas Ekwanto.

Ekwanto menjelaskan guna mempermudah mobilisasi, bila ada pelintas yang hendak menyeberang dari sisi timur ke barat maupun sebaliknya, pada titik-titik tertentu telah disediakan lokasi penyeberangan telah dijaga oleh Jogoboro. Namun bila kondisi pedestrian dinilai tidak ramai, pengunjung bisa menyeberang di luar titik-titik tadi. "Jadi misal pengunjung mau belanja di sisi barat enggak perlu harus sampai ujung selatan Malioboro baru bisa pindah ke sisi barat," ujarnya.

Diterangkan Ekwanto, di tiap-tiap ujung pedestrian sisi barat dan timur dijaga oleh petugas Jogoboro. Petugas memastikan pelintas mematuhi sesuai arah yang ditentukan. Di ujung utara sisi timur [pintu masuk Malioboro] dipasang pagar, pelintas yang masuk akan diperiksa suhu tubuh dan telah memakai masker atau belum. Begitu pula di ujung selatan sisi barat didirikan pagar yang berfungsi memeriksa suhu tubuh dan pemakaian masker para pelintas.

Meski terbilang sistematis dalam mencegah pengunjung berpapasan kaitannya dalam memperketat protokol Covid-19, penerapan arus pelintas ini masih tahap simulasi. "Masih banyak tahapannya, simulasi, sosialisasi, uji coba, baru diresmikan secara resmi," jelas Ekwanto. Saat ini simulasi arus pelintas merupakan bagian dari uji coba New Normal di Kota Jogja.

Ketua Harian Gugus Tugas Kota Jogja, Heroe Poerwadi mengatakan diberlakukannya arus satu arah digunakan untuk mengatasi kerumunan dan jarak fisik. "Sehingga pejalan kaki berjalan ke selatan berada di sisi pedestrian timur, sedang yang menuju ke utara berjalan di sisi pedestrian barat," ujarnya. Lebih jauh bahkan upaya jaga jarak fisik kedepannya akan diupayakan dengan memberi tanda khusus untuk orang berdiri atau berkelompok.

Tidak hanya diperiksa suhu tubuh dan masker, para pelintas juga wajib mengisi QR Code. Heroe mengatakan dengan penerapan QR code pengunjung di kawasan Malioboro bisa dimonitor keberadaannya. "Setiap pengunjung akan memindai QR Code yang terhubung langsung ke server Pemkot Jogja, dengan begitu kita bisa memonitor keberadaan seseorang [pengunjung]," jelasnya.

Heroe menyebutkan penerapan wajib QR Code berlaku tidak hanya di arah pedestrian, namun termasuk Pasar Beringharjo, Taman Pintar, dn Alun-alun Utara. Lokasi-lokasi tersebut memberlakukan monitoring kepada pengunjung, melakukan penataan arus pengunjung dan beberapa protokol baru menuju kondisi normal mendatang. "Kami berharap uji coba, bisa diterapkan di seluruh kawasan di Kota Jogja secara bertahap," katanya.

Menurut Heroe monitoring penting bagi Kota Jogja sebagai kota pendidikan yang jual pelajar dan mahasiswa dari luar kota sangat banyak, terlebih Jogja termasuk kota wisata. Dia menambahkan bila di suatu kawasan ditemukan kasus Covid-19 petugas tracing bisa melacak dan melakukan penelusuran lebih mudah mudah. "Dengan sistem QR Code kita bisa langsung mengundang [orang yang masuk dalam Tracing] yang pada waktu tertentu berada di suatu kawasan," tegasnya.

Salah satu pengunjung yang harus melewati serangkaian aturan baru di kawasan Malioboro ini adalah Khotibul Umami. Khotibul merasa tidak keberatan harus melewati serangkaian pemeriksaan seperti cek suhu badan, pemakaian masker, hingga pengisian data diri melalui QR Code. Mahasiswa asal Banyuwangi tersebut terpaksa dibantu petugas dalam pengisian QR Code lantaran gawai yang dimilikinya belum memiliki aplikasi QR Code S Scanner.

"Bagus, karena kondisinya kaya gini harus bawa masker, dicek suhu, dan isi data diri, belum punya QR Code Scanner jadi tadi dibantu petugas ditanya nama dan nomor telepon," ujarnya. Meski harus mencantumkan nama dan nomor telepon, Khotibul tidak merasa keberatan karena tindakan yang dilakukan bertujuan untuk mencatat siapa pengunjung yang masuk pada waktu tertentu.

Ekwanto meminta kepada setiap pengunjung yang hendak memasuki kawasan Malioboro mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yang berlaku salah satunya memakai masker. Selain itu pengunjung diharapkan memasang aplikasi QR Code Scanner agar mempermudah pencatatan pengunjung.

"Bagi pengunjung yang tidak membawa gawai atau ponsel yang dimiliki kurang canggih, bahkan mungkin bila tidak memiliki ponsel, akan menggunakan alat pemindai QR Code milik petugas, pengunjung cukup menyebutkan nama lengkap dan nomor telepon yang dapat dihubungi," jelasnya.