Tim Gabungan Tangani Karhutla di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani
Meski api telah berhasil dikendalikan, petugas tetap melanjutkan proses mopping up atau penyisiran lokasi
Seorang petani di Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, Bantul, menunjukkan tanaman cabai miliknya yang mengering akibat serangan penyakit patek, Selasa (28/1/2020)./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.co, BANTUL—Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY melakukan gerakan Jogja Tetulung. Mereka membantu menjualkan cabai dari para petani yang mengalami kemerosotan harga di Bantul kepada masyarakat.
Koordinator Jogja Tetulung Dwi Kusnantoro mengatakan aksi menjualkan cabai dari para petani kepada masyarakat mulai dilakukan sejak pandemi Covid-19. Selain melalui Facebook, cabai juga ditawarkan melalui aplikasi Whatsapp dan media sosial lainnya.
“Di sini kami mencoba menjadi mediator, sekaligus menjembatani antara petani dan pembeli,” katanya di Gedung Parasamya, Bantul, Senin (15/6/2020).
Dwi mengungkapkan sejauh ini pihaknya tidak mengambil keuntungan dari petani maupun pembeli. Sebab, tujuan Jogja Tetulung adalah untuk menjembatani antara pembeli dan penjual.
Gerakan ini menawarkan cabai ke publik dengan harga Rp7.000 per kilogram dan respons masyarakat cukup baik. “Sedangkan harganya cenderung mulai stabil,” lanjutnya.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Bantul Sukrisna Dwi Susanta mengatakan saat ini harga cabai cenderung stabil. Data di Disdag Bantul menyebutkan harga cabai baik rawit maupun cabai besar di atas Rp7.000 per kilogram.
“Cabai merah keriting saja, saat ini sudah Rp10.700 di beberapa pasar. Jika harganya dibawah Rp7.000 mungkin harga dari petani ke tengkulak,” terangnya.
Sementara, Kepala Seksi Produksi Pertanian Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (P2KP) Bantul, R Bimo Ari Wibowo mengungkapkan saat ini Bantul belum memasuki masa panen. Diperkirakan cabai akan memasuki panen pada Juli mendatang.
“Kalau di Juli kita ada di 40 hektare. Panen puncaknya 100 ton, selama satu bulan. Sampai saat ini sejatinya stok kebutuhan kita masih mencukupi,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Meski api telah berhasil dikendalikan, petugas tetap melanjutkan proses mopping up atau penyisiran lokasi
Jalan Baru Kretek-Girijati sepanjang 5 Km mulai uji coba open traffic 14-20 September 2026 dengan pembatasan kendaraan dan jam operasional.
Keterkaitan Boy Thohir dengan MGLV tercatat melalui PT Trinugraha Thohir yang memiliki 2,25% saham serta PT Trinugraha Thohir Harmoni sebesar 4,86%.
DPRD DIY meminta DTSEN tidak diterapkan kaku karena data bansos harus diuji dengan kondisi riil warga, termasuk pekerja informal dan pengguna pinjol.
Gus Kikin memastikan tetap menjaga kedekatan dengan PWNU Jatim meski lebih banyak bertugas di Jakarta sebagai Ketua Umum PBNU 2026–2031.
Sultan HB X menyoroti pengelolaan MBG di Sleman, terutama penyimpanan bahan makanan dan waktu memasak setelah 70 siswa diduga keracunan.