Pabrik Hidrogen Hijau Pertama Pertamina Siap Beroperasi Tahun Ini
Pertamina menargetkan pabrik hidrogen hijau pertama di PLTP Ulubelu, Lampung, mulai beroperasi pada November 2026.
Muntowil bersama sepeda ontel buatan Inggris miliknya, Selasa (16/6). Ia membelinya sekitar tahun 2000. Harganya waktu itu baru di kisaran Rp1,5 juta./Harian Jogja-Hery Setiawan.
Harianjogja.com, KULONPROGO—Fenomena gowes alias bersepeda kini populer di tengah pandemi Covid-19. Jamak ditemukan rombongan maupun kelompok kecil goweser mengisi ruas-ruas jalan.
Sayangnya, meninggalnya seorang goweser asal Bantul di sebuah tanjakan di Kulonprogo seperti menjadi pengingat bahwa bersepeda bukanlah soal euforia. Bersepeda merupakan aktivitas fisik yang memerlukan persiapan dan kepatuhan guna mengurangi potensi bahaya.
Muntowil, 46, seorang laki-laki yang lama dikenal sebagai dedengkot goweser dan kolektor sepeda ontel menyayangkan peristiwa tersebut. Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap sepeda, menurut dia kesadaran akan keselamatan tak boleh diabaikan. Bersepeda, baginya bukanlah ajang untuk unjuk gigi atau kekuatan. Bersepeda butuh persiapan, baik dari segi fisik maupun kelengkapan sepeda itu sendiri.
“Jika memang lelah, seharusnya istirahat saja. Jangan memaksakan diri untuk terus bersepeda. Sebab, setiap sepeda punya karakter dan fungsi yang berbeda. Termasuk kita yang juga punya ketahanan fisik berbeda,” kata laki-laki yang akrab disapa Towil itu, Selasa (16/6/2020).
Laki-laki berambut gondrong itu mengatakan idealnya bersepeda harus dilakukan dengan perasaan rileks. Terlebih, bersepeda tak lagi menjadi aktivitas yang dilakoni oleh sedikit orang. Bersepeda sudah menjadi aktivitas sosial yang menyehatkan untuk tubuh.
"Fenomena gowes sekarang itu sebenarnya pertanda bagus. Selain menyehatkan, kita juga bisa bertemu dengan orang lain. Tapi tetap dengan mematuhi protokol kesehatan seperti menjaga jarak dan memakai masker," ujarnya saat ditemui di Towilfiets, Dusun Bantar Wetan, Kelurahan Banguncipto, Kapanewon Sentolo, Kulonprogo.
Selain itu, ia juga meminta agar pesepeda tidak egois, apalagi ketika sedang menggowes secara berkelompok. Pasalnya, jalan merupakan milik publik. Tidak baik apabila aktivitas bersepeda sampai memenuhi ruas jalan dan mengganggu aktivitas masyarakat lainnya.
Ia berharap gowes saat pandemi ini tak bernasib seperti fenomena sepeda fixie sebagai popularitas yang lekas sirna. Towil menyarankan kepada pemerintah untuk memberi dukungan berupa kebijakan yang mampu meningkatkan minat sekaligus melindungi aktivitas bersepeda.
“Kondisi jalan di Jogja itu sudah bagus buat bersepeda. Pemerintah hanya perlu mendukung minat masyarakat dengan membangun jalur khusus sepeda. Kalau di kota itu mungkin juga butuh rerimbunan. Biar bersepeda itu tidak terasa panas,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pertamina menargetkan pabrik hidrogen hijau pertama di PLTP Ulubelu, Lampung, mulai beroperasi pada November 2026.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan sebaliknya hari ini berdasarkan data resmi KAI Access.
Inter Milan mengonfirmasi tengah mengupayakan transfer Cristian Romero dari Tottenham Hotspur pada bursa transfer musim panas ini.
Jadwal lengkap KA Bandara YIA Senin 27 Juli 2026 untuk layanan reguler dan Xpress dari Tugu Jogja dan Bandara YIA.
Jadwal lengkap KRL Solo-Jogja hari ini dari Stasiun Palur mulai pukul 05.00 WIB hingga Stasiun Tugu Yogyakarta.
Jadwal lengkap KRL Jogja-Solo Senin 27 Juli 2026 dengan 15 perjalanan dan tarif tetap Rp8.000 dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur.