Selama Pandemi Corona, Permintaan Kopi Suroloyo Anjlok

Salah satu petani kopi Suroloyo, Windarno, menunjukkan buah kopi yang siap petik di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Minggu (14/4/2019).-Harian Jogja - Jalu Rahman Dewantara
21 Juni 2020 20:12 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pandemi Covid-19 turut berdampak pada perekonomian petani kopi suroloyo di Dusun Keceme, Kalurahan Gerbosari, Kapanewon Samigaluh. Gara-gara pandemi ini, permintaan kopi andalan petani di Pegunungan Menoreh ini, baik yang sudah diolah maupun masih dalam bentuk biji turun signifikan.

"Penurunannya cukup tinggi. Sebelum pandemi biasanya kami bisa menyuplai minimal 50 kilogram kopi suroloyo baik robusta maupun arabika ke berbagai kedai kopi di DIY dan sekitarnya, dan untuk saat ini bisa memasok 10 kilogram saja sudah bagus," ujar Windarno, salah satu petani kopi suroloyo, Minggu (21/6/2020).

Windarno biasa menjual kopi biji ke luar Kulonprogo. Kisaran harga untuk jenis robusta mencapai Rp150.000 per kilogram, untuk arabika Rp260.000 per kilogram. Dengan harga itu, dia bisa mengantongi minimal Rp10 juta dalam sebulan. Namun sekarang nominal itu sulit dicapai.

Selain bertani kopi, Windarno juga membuka kedai dengan menu utama kopi suroloyo. Kedai yang berlokasi di kawasan objek wisata Puncak Suroloyo, Kapanewon Samigaluh ini cukup ramai dikunjungi wisatawan, terlebih saat memasuki akhir pekan dan musim liburan. Dalam sehari ia bisa menjual ratusan cangkir kopi dengan kisaran harga Rp12.000.

"Tetapi sama dengan permintaan kopi, kedai saya saat ini sepi kunjungan, apalagi di awal pandemi. Sekarang sudah ada wisatawan yang datang, tetapi belum seramai dulu," katanya. Windarno berharap pandemi bisa segera berakhir sehingga perekonomiannya dari bertani dan mengelola kedai kopi bisa bangkit lagi.