TPR Baron Gunungkidul Resmi Terapkan Pembayaran Full Cashless
TPR Baron Gunungkidul resmi menerapkan pembayaran full cashless. Sistem non tunai akan dievaluasi sebelum diterapkan di TPR lain.
Ilustrasi monyet/Pixabay
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Petani di kawasan pesisir mulai resah dengan serangan monyet ekor panjang di lahan pertanian. Serangan ini sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu dan mengalami peningkatan saat musim kemarau.
Lurah Kepek, Saptosari, Suhut mengatakan, ancaman monyet panjang semakin meningkat memasuki kemarau. Di wilayahnya ada enam dusun dan ladang pertanian milik warga sudah menjadi korban penjaranan kawanan primate ini. “Paling parah di Dusun Kepek dan Sumuran. Ladang yang ditanami kacang banyak yang dijarah,” katanya kepada wartawan, Selasa (23/6/2020).
BACA JUGA: Serie A Liga Italia Tak Lagi Disiarkan di Indonesia & Dunia, Ini Alasan dan Cerita di Baliknya
Menurut dia, serangan monyet sudah sejak bertahun-tahun lalu, dan bikin petani frustrasi. Namun demikian, hingga sekarang belum ada solusi untuk mengatasi serangan secara efektif. “Sudah kami laporkan ke BKASDA atau Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, tapi belum ada hasilnya,” katanya.
Hal senada diungkapkan oleh Jogoboyo Kalurahan Kemadang, Daldiyo. Menurut dia, di wilayahnya sudah banyak hasil bumi milik warga yang dijarah kawanan monyet. “Kerugiannya sudah banyak. Kondisi ini sudah berlangsung sejak enam tahun lalu hingga sekarang belum ada tanda-tanda serangan mereda,” katanya.
BACA JUGA: Kampusnya Viral dengan Tagar #UniversitasPancenNdlogok, Ini Jawaban Rektor UPN Jogja
Daldiyo mengungkapkan para petani sudah berusaha mengantisipasi mulai dari menjaga lahan atau memburu. Namun demikian, berbagai upaya itu tidak membuahkan hasil.
“Sudah kami pasang jaring atau membunyikan petasan, tapi kawanan itu tidak takut. Saat warga pulang, monyet-monyet itu lansung datang untuk menjarah,” katanya.
BACA JUGA: Mulai Rabu, Dua Pantai di Gunungkidul Sudah Dibuka untuk Umum
Dia pun berharap ada upaya mengatasi sehingga kerugian yang diderita petani bisa dikurangi. “Ya kalau seperti ini, warga tidak panen karena tanaman yang ditanam dijarah kawanan monyet,” katanya.
Anggota DPRD DIY dari Daerah Pemilihan Gunungkidul Suparjo mengatakan, serangan monyet ekor panjang tidak hanya terjadi di wilayah pesisir. Sebab, di zona utara juga terjadi hal yang sama sehingga harus ada upaya serius untuk penanggulangan.
“Salah satunya terjadi di Karangsari, Kapanewon Semin. Saya sudah cek ke lokasi dan para petani resah dengan serangan itu,” kata Suparjo.
Dia pun berharap kepada Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk menangani agar kerugian yang diderita petani bisa dikurangi. “Ya kalau dijarah terus, petani akan merugi. Jadi, harus ditangani dengan sungguh-sungguh,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, mengatakan jawatannya sudah melakukan pemantauan terhadap ancaman serangan monyet di wilayah Tepus. Namun demikian, hasil pemantauan belum menunjukan tanda-tanda serangan.
“Beberapa cara juga sudah kami lakukan seperti menanam tanaman buah di beberapa titik. Penanaman dilakukan untuk memberikan stok pangan monyet agar tidak menjarah ke area pertanian,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
TPR Baron Gunungkidul resmi menerapkan pembayaran full cashless. Sistem non tunai akan dievaluasi sebelum diterapkan di TPR lain.
Alex Marquez diduga melaju lebih dari 200 km/jam saat mengalami crash horor di MotoGP Catalunya 2026. Ini estimasi kecepatannya.
Pengadaan TKD pengganti YIA di Palihan dan Glagah masih stagnan. Warga khawatir dana ganti rugi hangus jika tak segera direalisasikan.
Penelitian terbaru menunjukkan AI mampu memperpanjang usia baterai mobil listrik hingga 23 persen tanpa memperlambat pengisian daya.
Penyandang disabilitas saat ini telah menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang memainkan peran yang sama pentingnya dengan masyarakat umum dalam sektor
Libur panjang Kenaikan Yesus Kristus mendongkrak kunjungan wisata Gunungkidul hingga 145 ribu orang dengan PAD mencapai Rp1,7 miliar.