Mengenal Kolektor Ratusan Sepeda di Jogja: Kepincut Sepeda China, Enggan Mematok Harga Semua Koleksinya

Pemilik Museum Merpati David Sunar Handoko berfoto bersama koleksi sepedanya di Museum Merpati, di Jl. KH. Ahmad Dahlan No.88, Ngampilan, Kota Jogja, Selasa (16/6/2020). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
17 Juni 2020 09:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Ratusan sepeda diparkir rapi di sebuah bangunan di Jalan Ngabean, Ngampilan, Kota Jogja. Tidak terlihat debu yang menempel di setang, sadel, dan pedal. Ruji-ruji dan pelek tampak mengilap.

Empunya merawat kereta angin itu dengan ketekunan. David Sunar Handoko, pemilik Merpati Museum, adalah kolektor sepeda yang sangat berdedikasi. Pada dasarnya dia adalah seorang kolektor. Tak hanya sepeda, tetapi juga motor, mobil, jam dinding, patung, lukisan, arloji, sampai seterika.

Handoko, begitu dia biasa disapa, dibesarkan saat sepeda menjadi alat transportasi sehari-hari penduduk Jogja. "Pada tahun 1955, ketika saya dilahirkan sepeda sedang banyak-banyaknya. Jogja menjadi Kota Sepeda sampai tahun 70-an dan akhirnya tergerus. Dulu sepeda adalah sarana transportasi, sarana olahraga, hobi, koleksi, sampai menjadi gengsi," ujar Handoko kepada Harian Jogja, Selasa (16/6).

Handoko hafal betul perkembangan sepeda sejak satu dekada setelah Indonesia merdeka.

"Saya dulu juga ngalami punya sepeda buatan Belanda merek Fongers,” kata dia.

Itu adalah ontel, sepeda yang umumnya dipakai orang-orang pada masa Hindia Belanda sampai tahun 70-an

“Saya ngerasakke [merasakan] bagaimana bagusnya sepeda itu."

Kemudian, sepeda besutan Tiongkok merek Phoenix mulai masuk ke Indonesia. Berdasarkan penuturan Handoko masuk sekitar tahun 1958 sampai dengan 1959.

"Itu [Phoenix] apik tenan (bagus sekali), kalau dituntun bunyi cik cik cik, akhirnya saya minta almarhum Papa untuk belikan itu. Saya dibelikan, wah senang sekali."

Sepeda Phoenix sempat menjadi primadona pada masa lalu. Ukurannya yang disesuaikan dengan postur orang Indonesia menjadikan sepeda tersebut sangat laku. Phoenix tidak seperti sepeda Belanda yang cenderung tinggi dan berat.

"Sepeda jengki yang produk tahun 1959-an memang top. Tidak gampang rusak. Saya ngerasakke dewe [merasakan sendiri] soalnya, enake pol [enak sekali]. Tidak seperti sepeda Belanda yang termasuk sepeda kuno, kalau Phoenix sudah disesuaikan dengan kondisi zaman pada waktu itu," kata Handoko.

Dari segi harga, sepeda Phoenix bisa separuh harga sepeda buatan Belanda.

"Wis regane larang [sudah harganya mahal] ora praktis [tidak praktis],” Handoko mengomentari susahnya memiliki sepeda Belanda.

“Kalau Phoenix itu kan enak dikendarainya. Dulu sewaktu sekolah, saya dan teman-teman berbondong-bondong beli Phoenix.”

Tahun 1973 Handoko mulai mengenal sepeda motor. Minatnya bersepeda lambat laun berkurang.

"Jadi bersepedanya mandek dari tahun 1973 sampai saya suka lagi tahun 1982. Pada waktu itu sepeda balap. Tahun 1985 menikah, saya mandek le pit-pitan [sepedaan]. Karena juga sudah menjadi pengusaha full. Jadinya, tidak ada waktu lagi," kata bos Merpati Motor ini.

Handoko kembali bersentuhan dengan sepeda pada 2012 berkat teman-temannya.

“Dulunya saya tidak tertarik blas. Namun teman saya membujuk terus untuk mengoleksi sepeda. Kemudian saya belajar dengan Pak Yudi Kasim [kolektor ternama sepeda antic dan pemilik Marcopolo Antique di Jalan Sosrowijayan]. Lama-lama saya mudheng [paham] seluk beluk sepeda. Sampai akhirnya keterusan beli hingga berjumlah 500 an itu.”

Tahun 2012, awal Handoko mengoleksi sepeda, ia hanya mempunyai lima sepeda. Dua sepeda yang diberikan oleh ayah kandungnya, Gazelle seri enam tahun 1941; dua Humber pemberian, satu dari pamannya dan satu dari kenalannya; serta sepeda yang dimiliki olehnya sewaktu ia sekolah.

Sampai detik ini, koleksi sepeda Handoko yang berjumlah 500 tersebut banyak yang sudah uzur. Paling tua berasal dari abad ke-18 hingga dan paling modern dari tahun 1970 an.

"Akhirnya beli terus, saya itu enggak pernah kemurungsung (tergesa-gesa) kalau beli sepeda. Satu demi satu. Terkadang berhari-hari saya pantau terus sampai bolak-balik ke penjualnya. Saya teliti. Enggak pernah waton wis Iki kabeh tak tuku [asal membeli]. Jadi, barang yang kita beli itu kualitasnya bagus," kata Handoko.

Handoko percaya pada prinsip tiga M dalam merawat semua koleksinya.

"M pertama mensyukuri. Mensyukuri artinya kita berterima kasih kepada Tuhan. Mau itu jelek kayak apa kalau kita senang juga nantinya akan timbul rasa senang di dalam hati. Sepeda juga dirawat setiap hari. Dibersihkan dari debu dan lainnya. Itu cara saya untuk mensyukuri nikmat Tuhan."

M kedua, lanjut Handoko, adalah mengelola. Mengelola sepeda sebanyak 500 buah itu tidak mudah.

"Karena sudah mampu mensyukuri akhirnya kita ikhlas dalam mengelola. Kalau ada kerusakan kita perbaiki. Pertama orang bilang, ‘Wo…, sepedanya kok kayak gitu,’ sampai orang bilang wow. Dari wo… jadi wow," canda Handoko.

M terakhir, kata Handoko, paling krusial, yakni mempertanggungjawabkan.

“Semua koleksi adalah titipan dari Tuhan. Akhirnya saya kelola dengan baik karena saya bertanggung jawab kepada Tuhan. Koleksi yang saya punya saya sayangi. Kalau dijual yang tadinya barang rongsok sekarang nilainya jadi ratusan juta rupiah. Kalau kita punya ketiga prinsip itu, kita akan punya kemampuan untuk mengelola koleksi yang banyak."

Handoko menolak memvaluasi koleksi yang ia punya. Menurutnya, itu tindakan yang kurang etis.

"Itu sama saja dengan sombong. Tuhan itu tidak menyukai kesombongan. Takutnya terjadi kecemburuan sosial.”