Bangunan di Depan Stasiun Tugu Ini Bikin Warganet Penasaran, Ada yang Punya Kenangan?

Bangunan bekas Hotel Toegoe di Jalan Mangkubumi Kota Jogja, tepatnya di depan Stasiun Tugu. - Ist/ tangkapan layar twitter.
02 Juli 2020 20:27 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Sebuah bangunan di Jalan Margo Utomo (sebelumnya bernama Jalan Mangkubumi) Kota Jogja, tepatnya di depan Stasiun Tugu menjadi pertanyaan warganet. Bangunan tersebut kini tidak digunakan dan tidak terurus.

Bangunan tersebut berbentuk mirip sebuah kastil jika di bagian depan. Gedungnya hanya satu lantai, namun tidak jelas tampak berapa panjang ke belakang. Bangunan itu hanya bisa dilihat dari depan melalui pinggir jalan.

Sudah bertahun-tahun bangunan itu mangkrak. Kondisi bangunan masih utuh, namun sudah usang. Catnya mengelupas di sana-sini meski masih tampak dulunya berwarna putih dengan hiasan garis-garis biru.

Baca juga: Setelah Pantai, Zaskia Adya Mecca Temukan Hutan Belantara di Kaliurang, Masih Alami Banget!

Seorang warganet mempertanyakan bangunan tersebut. Pertanyaan itu diunggah oleh akun @JogjaUpdate. "Punten ni lik, tanya,, ini dulu bangunan apa ya? @nurfathi_," tulis akun tersebut pada Selasa (30/6/2020).

Pertanyaan itu pun ditanggapi warganet. Lebih dari 75 warganet mengomentarinya, lebih dari 50 membagikan ulang dan lebih dari 150 menyukai unggahan tersebut.

Kebanyakan warganet malah nostalgia kenangan mereka dengan bangunan tersebut. Mereka mengungkapkan pernah datang ke gedung tersebut saat masih digunakan.

Baca juga: Warganet Ini Ungkap Perjalanan dari Solo ke Jogja Cuma 10 Menit, Begini Katanya

Ternyata, bangunan tersebut dahulu pernah digunakan untuk toko pecah belah bernama Kedaung Table Top Plaza, pernah menjadi restoran fast food Popeye, menjadi kantor bank serta pernah menjadi kampus Universitias Mercu Buana Yogyakarta.

"Pernah jadi resto Popeye gede pas sebelum taun 2010an," tulis akun @kevindkevind.

"Kedaung plaza nek biyen tak lewati jaman mangkat sekolah, jane eman2 lokasi strategis tengah kota nek saiki gak di fungsikan," tambah akun @hanifnusena.

"Iki mbiyen nggone kedaung grup, jual piring sama gelas bagus2....," jelas akun @karrmons.

"Resto seafood andalan jaman kecil," ungkap @adhikrisnanta.

"Pernah diajak ibuku ngurus duit waktu masih jadi bank jakarta," akun @HendartoWijay bernostalgia.

"pas jamanku kuliah berati 2008 itu jadi kampus mercu buana
ga tau sekarang," tambah akun @HerMustika.

"Sebelah timur digunakan untuk kedaung toko pecah belah, ini gedung prosesnya bagaimana nggeh? Sayang hanya didiamkan lokasi di pusat kota, bangunan bersejarah dan memiliki fasad indische yang masih kental," tulis akun @dmprdw sambil menyebut akun milik mantan Wali Kota Jogja, Herry Zudianto @herry_zudianto serta Humas Pemkot Jogja @PemkotJogja dan Humas Pemda DIY @humas_jogja.

Herry Zudianto pun memberikan jawaban. Melalui kolom komentar, Wali Kota yang menjabat 2 periode yaitu 2001-2006 dan 2006-2011 itu menjelaskan bahwa sepengetahuannya, bangunan itu milik almarhum Probosutedjo.

"Setahu saya lokasi itu dikuasai oleh almarhum Probosutejo. Saya tidak tahu statusnya Hak Milik, HGB, atau Hak Pakai," tulis Herry Zudianto.

Ia juga menyebutkan pernah beberapa kali bertemu dengan Probosutejo untuk mengajukan rencana pemanfaatan, tetapi sampai ia selesai tahun 2011 belum ada yang mengajukan IMB.

"Saya selesai tugas 2011, sy pernah bbrp x ktm Pak Probo utk sgr ajukan rencana pemanfaatan, ttp smp 2011 blm ajukan IMB. Kiranya Pemda DIY / Pemkot bisa berikan update info, krn setahu saya kawasannya menyatu dgn sewa tanah jk pjg ex hotel Trio (utaranya) dari BUMD Pemda DIY," jelasnya.

Untuk diketahui, Probosutedjo adalah almarhum Probosutejo adalah adik seibu mantan Presiden Indonesia, Soeharto. Ia merupakan seorang pengusaha Indonesia yang sukses, yakni Direktur Utama PT. Menara Hutan Buana, mempunyai Yayasan Menara Bhakti, Pemilik Universitas Mercu Buana.

Menguti dari Wikipedia, bangunan tersebut dahulu merupakan Hotel Toegoe, yang dibangun pada awal abad ke-20. Hotel ini sering dipakai sebagai tempat istirahat oleh penumpang kereta api dari Batavia dengan tujuan Solo yang berhenti dulu di Stasiun Tugu pada malam hari dan baru melanjutkan perjalanan keesokan paginya.

Pada tahun 1949, Hotel Toegoe dipakai rapat antara Indonesia dengan Committee of Good Offices for Indonesia (Komisi Tiga Negara beranggotakan Australia, Belgia dan Amerika Serikat) sebagai persiapan Konferensi Meja Bundar yang akan dilaksanakan pada tahun yang sama di Den Haag, Belanda. Pada tahun yang sama, Hotel Toegoe pernah menjadi salah satu sasaran dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 karena dipakai sebagai markas tentara Belanda.

Bangunan Hotel Toegoe masih berdiri kokoh dan dianggap sebagai sebuah warisan budaya Indonesia yang telah ditetapkan dalam SK Menteri NoPM.25/PW.007/MKP/2007 dan SK Menteri No013/M/2014 sebagai cagar budaya peringkat nasional kategori Bangunan Cagar Budaya

Pada awal tahun 2019, sebagian atap Hotel Toegoe dikabarkan roboh. Sebelumnya, kondisi atap banyak yang bocor dan beberapa kayu penyangga telah lapuk. Dalam rangka pembersihan, Hotel Toegoe dikelilingi pagar dengan pintu masuk terkunci.