Antisipasi Gagal Panen, Suplai Air untuk Persawahan di Kulonprogo Perlu Ditambah

Ilustrasi saluran irigasi. /Solopos - Burhan Aris Nugraha
02 Juli 2020 06:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, WATES--Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Sekar Mulyo, Dusun Lengkong, Kalurahan Donomulyo, Kapanewon Nanggulan, Kulonprogo meminta pemerintah setempat bisa menambah suplai air ke lahan persawahan yang mereka kelola. Suplai air yang diterima P3A selama ini dirasa minim sehingga menyulitkan petani saat menghadapi masa tanam.

Ketua P3A Sekar Mulyo, Gimo mengatakan  debit air yang diterima kelompoknya dari jaringan irigasi Kalibawang saat ini hanya berkisar 15-20 liter per detik. Sementara lahan persawahan yang mereka kelola memiliki luasan hingga 191 hektare. Dengan luas seperti itu, idealnya kebutuhan debit air antara 40-50 liter per detik.

"Kurang dari itu, ya sangat menyulitkan petani, imbasnya yakni gagal panen," ujar Gimo, kepada wartawan, Rabu (1/7/2020).

BACA JUGA : 225 Hektare Lahan Padi di Bantul Gagal Panen

Gimo menututkan, puluhan hektare sawah yang mereka kelola sering mengalami gagal tanam dan gagal panen karena minimnya debit air. Oleh karena itu, dia berharap Pemerintah Kabupaten Kulonprogo dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) dan Dinas Pertanian dan Pangan (Distanapangan) bisa meninjau ulang distribusi air ke area persawahan mereka. "Semoga ada penambahan debit air," harapnya.

DPRD Kulonprogo turut menyoroti minimnya distribusi air yang tidak hanya dialami P3A Sekar Mulyo, tapi juga kelompok lain di Kulonprogo.

"Berdasarkan perhitungan kebutuhan air di dinas, mungkin kenbutuhan air untuk petani pengguna air sudah cukup, tapi di lapangan realitanya berbeda, misalnya di wilayah Nanggulan dan sebagian di Sentolo, yang sempat gagal panen karena tidak ada air," ujar Wakil Ketua II DPRD Kulonprogo, Lajiyo Yok Mulyono.

Lajiyo meminta instansi terkait untuk benar-benar serius dalam memetakan kebutuhan air dari hulu sampai hilir, karena hal ini merupakan kunci keberhasilan mewujudkan ketahanan pangan.

Pemkab Kulonprogo lanjutnya selalu menyebut kabupaten ini surplus beras. Produksi padi melimpah. Namun, setiap kali memasuki masa tanam, petani selalu kesulitan air guna mengairi tanaman padi yang berpotensi menyebabkan gagal panen.

"Bagaimana mau berhasil mewujudkan ketahanan pangan kalau kebutuhan airnya aja menipis, jadi perlu ada pemetaan yang lebih luas lagi," ujarnya.

Selain pemetaan yang matang, Pemkab juga perlu membangun sumber mata air baru untuk menambah supali air jaringan irigasi induk Kalibawang. Saat ini lanjutnya debit air Sungai Progo sudah tidak mampu mensuplai kebutuhan irigasi di Kulonprogo karena disalurkan juga untun mensuplai saluran untuk Selokan Mataram, SPAM Regional Bantar, Kamijoro, dan Bendung Sapon, termasuk irigasi Kalibawang.

"Potensi sumber mata air untuk menyuplai air jaringan irigasi Kalibawang sangat banyak, seperti membangun Damparit Tinalah, pengoptimalan Bendung Kayangan, hingga di Janti. Tinggal bagaimana nanti praktiknya di lapangan," ucap Lajiyo.