225 Hektare Lahan Padi di Bantul Gagal Panen

Sarjono, seorang petani di Dusun Ngrahu, Desa Sumberejo, Semin memotong tanaman padi yang mengering untuk dijadikan pakan ternak. Senin (1/7/2019) - Harian Jogja/David Kurniawan
20 Juli 2019 22:47 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan (DP2KP) Bantul mencatat selama musim kemarau sampai saat sudah ada sekitar 225 hektare lahan padi yang puso alias gagal panen. Sebagian besar lahan yang gagal panen lokasinya di dataran tinggi sehingga tidak ada pasokan air kecuali mengandalkan air hujan.

“Yang paling banyak di Kecamatan Dlingo ada 85 hektare, di Sedayu 60 hektare, dan lainnya tersebar di beberapa kecamatan. Totalnya yang mengalami gagal panen berdasarkan laporan yang masuk sekitar 225 hektare,” kata Kepala DP2KP Bantul, Pulung Haryadi, saat ditemui seusai menghadiri upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Bantul ke-188 di Lapangan Trirenggo, Bantul, Sabtu (20/7/2019).

Pulung mengatakan lahan padi yang gagal panen sebagian berada di wilayah yang selama ini mengandalkan air tadah hujan, sehingga ketika terjadi kemarau, kekurangan air, seperti di wilayah Dlingo yang lokasinya perbukitan. Sementara di wilayah Sedayu banyak yang gagal panen, sebagian besar petani mempertahankan dengan mengambil air dari Sungai Progo dengan cara pompa.

Namun untuk menyedot air dari Sungai Progo membutuhkan bahan bakar yang banyak sehingga pengeluaran petani bertambah. Pihaknya mengaku tidak bisa berbuat banyak karena tidak ada anggaran konpensasi untuk petani yang sawahnya mengalami gagal panen. DP2KP Bantul juga sudah mengimbau kepada para petani untuk sementara tidak menanam padi bagi yang sawahnya kurang teraliri air.

Saat ini musim kemarau masih berlangsung yang diperkirakan hingga Agustus mendatang. “Sekarang belum dianjurkan menanam padi. Paling tidak sudah bisa menanam padi lagi sekitar September akhir,” ujar Pulung. Untuk mengurangi kerugian yang cukup besar, Pulung menyarankan petani untuk beralih menanam tanaman palawija.

Pulung juga menyarankan petani untuk ikut asuransi petani sehingga jika terjadi gagal panen masih bisa ditanggung oleh perusahaan asuransi. Ia mengaku sudah sering mensosialisasikan terkait asuransi petani. Namun hingga saat ini belum banyak yang ikut. “Yang sudah banyak ikut asuransi itu nelayan tapi kalau petani belum banyak,” kata Pulung.

Selain menerima laporan gagal panen, DP2KP Bantul juga mencatat terdapat laporan lahan yang dibiarkan kering alias tidak ditanami karena tidak ada air. Ia mengatakan petani tidak ingin mengambil resiko gagal panen, karena menanam palawija juga membutuhkan air meskipun tidak sebanyak saat menanam padi.

Camat Dlingo, Deni Ngajis Hartono menambahkan puluhan hektare lahan padi di wilayahnya yang gagal panen tersebar di hampir semua desa. Namun yang terparah ada di Desa Mangunan, Dlingo, Muntuk dan Jati Mulyo. Menurut dia, setiap terjadi musim kemarau di Dlingo memang dipastikan kekurangan, “Pertanian mengandalkan air tadah hujan,” katanya.

Ketua Kelompok Tani Boga Tani, Argomulyo, Sedayu, Jakiman, sebelumnya, membenarkan adanya lahan yang dibiarkan mengering. Ia menyebut ada sekitar empat hektare lahan di Desa Argomulyo dan Argodadi yang tidak ditanami karena kesulitan mendapatkan air, bahkan untuk menanam palawija saja tidak berani.

Petani sempat mencoba mengambil air dari Kali Progo dengan pompa, namun kurang lancar karena terlalu jauh dan posisi lahan pertanian terlalu tinggi dari sungai. Pihaknya sudah mengajukan pengadaan sumur bor kepada Pemkab Bantul.

“Beberapa petani yang lahannya masih bisa teraliri air meski dua pekan sekali masih bisa menanam palawija, kalau tidak teraliri sama sekali tidak berani mengambil resiko gagal panen,” kata Jakiman.