Gara-Gara Hoaks Corona, Warga Sedusun di Godean Dikucilkan

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
05 Juli 2020 17:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Warga Dusun Karakan, Sidomoyo, Godean mengalami isu tak sedap. Mereka sempat dikucilkan akibat kabar hoaks terkait dengan virus Corona.

Kasus ini bermula ketika beredar kabar salah satu warga Dusun Karakan dinyatakan positif Covid-19 dan dirawat di rumah sakit pada akhir Juni lalu. Warga yang positif Corona tersebut mengontrak di pinggir jalan Sidomoyo dan jauh dari permukiman warga. Saat ini, pasien tersebut masih menjalani perawatan di rumah sakit.

"Ya sudah lama mengontrak di sana. Cuma karena di pinggir jalan, kami tidak bisa memantau. Kalau di pintu masuk dusun semua warga yang keluar masuk terpantau karena ada satgas Covid-19 yang menjaga," kata Pj Dukuh Karakan Wisnu Hardono saat dihubungi Harianjogja.com, Minggu (5/7/2020).

Wisnu menjelaskan, walaupun tak pernah berinteraksi dengan warga Karakan namun sesuai protokol kesehatan maka seluruh warga yang berada di radius 25 meter dari kontrakan pasien positif Covid-19 menjalani rapid test. Dari sekitar 40-an warga yang dirapid test hanya sembilan warga yang reaktif.

"Jadi hanya reaktif. Tapi sudah muncul kabar hoaks yang reaktif tadi positif Covid-19. Padahal reaktif saat rapid test kan belum tentu positif Covid-19," terang Wisnu.

Munculnya hoaks banyak warga Karakan yang positif Corona menyebabkan warga dari dusun lain menjauhi warga Karakan. Bahkan sejumlah pekerja yang bekerja di bebarapa sektor diminta untuk tidak bekerja dulu. Padahal jarak mereka ada yang di luar radius 25 meter yang tidak dirapid test.

Perekonomian warga Karakan pun sempat terpuruk karena kabar bohong tersebut. Mereka secara sosial juga merasa diasingkan. "Warga Karakan sempat dikucilkan. Yang sudah bekerja oleh bos-bosnya diminta tidak kerja dulu. Bahkan saat membeli makanan di warung tidak dibolehkan," katanya.

Negatif Swab

Wisnu mengatakan, setelah dinyatakan reaktif kesembilan warga Karakan menjalani masa karantina mandiri dengan pengawasan tim medis dan masyarakat. Mereka juga menjalani uji swab sebanyak dua kali. "Hasil dua kali swab negatif. Jadi terbukti yang reaktif setelah diswab belum tentu positif Covid," kata Wisnu.

Sebagai rasa syukur atas hasil negatif swab tersebut, warga Karakan pun menggelar sujud syukur di depan pintu gapura dusun. Selain bersyukur atas hasil negatif tersebut juga untuk menepis kabar bohong yang dialami warga. Warga pun diberi surat keterangan bebas Covid-19. "Beberapa bos di mana warga kami bekerja, kami yakinkan kalau warga Karakan negatif Corona. Kami yakinkan mereka. Sebagian sudah menerima warga kami untuk kembali bekerja," katanya.

Wisnu berharap agar tidak ada kasus yang sama di wilayah lainnya, sosialisasi mengenai Corona, rapid test dan swab sebaiknya ditingkatkan agar pemahaman masyarakat tidak keliru. "Kami tidak tahu siapa yang menyebarkan itu. Mereka hanya salah memahami arti reaktif. Kami berharap agar ke depan tidak terjadi lagi seperti ini," harap Wisnu.

Selama pandemi Corona, kata Wisnu, warga Karakan menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Mereka memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak. Ke luar rumah hanya jika terpaksa atau ada keperluan mendesak saja. "Nah yang positif Covid-19 itu karena rumahnya di pinggir jalan jadi kurang terpantau," katanya.

Terpisah, Camat Godean Sarjono menambahkan, untuk memulihkan kepercayaan masyarakat karena terlanjur termakan isu hoaks pihaknya membuat surat keterangan jika dusun dan warga Karakan aman.

"Surat itu penting karena isu hoaks tersebut dampaknya luar biasa bagi warga Karakan. Surat tersebut juga bisa digunakan warga untuk bisa kembali bekerja," kata Sarjono.