Layanan Warung Air Jadi Solusi untuk Pemerataan Air di Gunungkidul

Ilustrasi. - Reuters/Mike Hutchings
06 Juli 2020 23:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—PDAM Tirta Handayani terus mengembangkan layanan warung air untuk memenuhi kebutuhan bagi masyarakat, khususnya di wilayah selatan. Cara ini dinilai sebagai solusi untuk pemerataan penyaluran air bersih.

Direktur Teknik PDAM Tirta Handayani, Toto Sugiharto, mengatakan jajarannya berkomitmen untuk membantu Pemkab dalam upaya pemerataan air bersih. Ia tidak menampik dari sisi potensi Gunungkidul memiliki sumber air yang melimpah. Meski demikian, kondisi geografis yang luas dan didominasi wilayah perbukitan membuat upaya pemerataan air menjadi terhambat. “Kontur yang naik turun membuat biaya produksi air menjadi besar karena butuh energi yang besar. Saat terjadi kendala, untuk perbaikan butuh waktu lama,” katanya kepada wartawan, Senin (6/7/2020).

Khusus di wilayah selatan seperti Kapanewon Tepus, Rongkop dan Girisubo, belum semua warga memperoleh layanan PDAM. Kondisi ini berdampak adanya sebagian warga yang mengalami krisis air saat kemarau.

Untuk memenuhi pasokan air berbagai upaya terus dilakukan. Selain mengoptimalkan sumber air yang ada, PDAM juga membuka layanan warung air yang dikelola masyarakat secara swadaya. Adapun teknis dari layanan ini, PDAM memasang sambungan rumah baru di satu kawasan. Oleh warga, sambungan ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan air secara bersama-sama. “Untuk biaya tergantung kesepakatan bersama. Yang jelas, pengelola nantinya yang bertanggungjawab membayar terhadap ke PDAM,” katanya.

Saat ini warung air tersebar lebih di 50 titik. Toto mencontohkan keberadaan warung air di Kalurahan Karangawen, Kapanewon Girisubo. Di lokasi ini ada yang belum mendapatkan layanan PDAM seperti di Dusun Ngaglik, Karangawen, Pokak dan Tegalrejo. “Untuk Dusun Pokak kami memasang lima sambungan rumah [SR], sedangkan di dusun lainnya masing-masing dua SR. Dengan warung air ini maka akses warga mendapatkan pasokan air bersih bisa dilakukan meski harus dilakukan secara bergantian,” katanya.

Lurah Karangawen, Roji Suyanta, mengatakan di wilayahnya sudah ada pipa PDAM sejak 1993. Meski demikian, instalasi ini tidak berfungsi karena baru pada 2019 diperbaiki dan dialiri air. “Sekarang sudah mulai mengalir meski untuk satu SR digunakan bersama-sama dengan warga lain,” katanya.

Meski belum menyasar ke seluruh rumah, keberadaan warung air dapat membantu dalam upaya memenuhi kebutuhan air bersih. “Dulu setiap kemarau warga selalu membeli dengan harga Rp150.000 hingga Rp250.000 per tangki. Dengan adanya pasokan dari PDAM, harapannya kebutuhan bisa terpenuhi,” katanya.