Bernama Pintaku Tiada Dusta, Pria Gunungkidul Ini Sampai Dipanggil Kepala Sekolah

Pintaku Tiada Dusta/Ist
10 Juli 2020 20:37 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Pemberian nama terkandung harapan bagi orang tua kepada anak-anaknya. Hal yang sama juga berlaku bagi Tenaga Harian Lepas (THL) di Bidang Penetapan dan Bina Pendapatan, Badan Keuangan dan Aset Gunungkidul, yang bernama Pintaku Tiada Dusta.

Sepintas nama ini mirip dengan sebuah lagu tembang kenangan. Namun ada harapan besar bahwa nama pemberian itu agar si anak menjadi seorang yang amanah dan dapat dipercaya. Kepada wartawan, Pinta, sapaan akrabnya, mengaku senang dengan nama pemberian kedua orang tuanya itu. “Saya sudah tanya kenapa diberi nama itu, dan oleh orang tua dijawab agar bisa menjadi orang yang amanah dan dapat dipercaya. Saya pun tidak ada niatan merubah nama pemerian orang tua saya,” katanya, Jumat (10/7/2020).

Meski memiliki nama unik, Pinta mengaku tidak pernah diejek oleh teman-teman sekolahnya. Hanya saja, pada saat mau lulus SD, sempat dipanggil oleh Kepala Sekolah terkait dengan kebenaran nama tersebut.

“Awalnya tidak percaya dengan nama itu karena mau ditulis dalam ijazah, tapi setelah saya dipanggil maka saya jelaskan bahwa nama itu memang benar,” kata pria kelahiran 5 September 1991.

Selain itu, saat menginjak SMP juga mendapatkan kejutan dari salah seorang guru dengan diberikan amplop yang berisi uang. Usut punya usut, uang itu diberikan karena sang guru berhasil menulis cerita tentang nama uniknya tersebut di sebuah rubrik milik media lokal. “Setelah dimuat, honornya diberikan kepada saya,” katanya.

Sebelumnya, di Kapanewon Saptosari tepatnya di Kalurahan Kepek viral seorang gadis bernama Dita Leni Ravia. Sama seperti dengan nama Pintaku Tiada Dusta, nama itu juga ada harapan-harapan besar oleh kedua orang tuanya.

Kepala Kundha Kabudayan Gunungkidul, Agus Kamtono mengatakan, pemberian nama unik sudah ada sejak jaman dahulu. Pemberian nama biasa disesuikan dengan hari pasaran ataupun weton yang dimiliki.

BACA JUGA: Nekat Pulang ke Madura, Warga di Bantul yang Positif Covid-19 Mengaku Bisa Sembuh Tanpa Dirawat

“Ada yang diberi nama Wage, Senen, Kemis, Wage. Bahkan ada juga yang dari gabungan hari dan pasaran seperti Tugi, kepanjangan dari Setu-Legi atau Tupon [Setu-Pon],” katanya.

Menurut Agus, pemberian nama juga merupakan hal yang sakral karena ada harapan dibalik pemberian nama itu. Pada jaman dulu, kata dia, pemberian nama juga sering dikonsultasikan dengan orang yang dituakan di desa karena memiliki kelebihan di bidang spiritual.

“Tak jarang pula ada yang diganti karena merasa tidak cocok. Biasanya ini dilihat saat anak sering sakit-sakitan, sehingga diganti dengan nama lain setelah dikonsultasikan ke orang yang dituakan tersebut,” katanya.