Sebagian Besar Pasien Corona di Jogja Adalah OTG! Rawan Menulari Kelompok Rentan

Ilustrasi. - Freepik
22 Juli 2020 21:37 WIB Newswire Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Mayoritas pasien Covid-19 di DIY merupakan orang tanpa gejala.

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta meminta masyarakat di wilayah ini melindungi kelompok rentan dari penularan COVID-19 yang bersumber dari orang tanpa gejala (OTG) yang kasusnya cukup dominan di DIY.

"Kasus (COVID-19) yang ada di DIY itu hampir 80-90 persen adalah OTG, artinya dia didapat positif tidak melalui pelayanan kesehatan. Ini menunjukkan bahwa di masyarakat kita OTG-nya banyak," kata Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan COVID-19 Berty Murtiningsih di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (22/7/2020).

Dengan temuan itu, menurut Berty, perlindungan terhadap kelompok rentan atau berisiko tinggi tertular seperti anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta orang dengan penyakit bawaan sangat penting.

"OTG itu kita tidak tahu seperti apa, apakah dia sakit atau tidak karena dia (tampak) tidak ada masalah dalam kesehatannya," kata dia.

Berty mengatakan lonjakan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di DIY yang pada Selasa (21/7/2020) tercatat 28 kasus baru antara lain disebabkan peningkatan upaya penelusuran kasus dan intensitas pemeriksaan usap (swab) oleh tenaga kesehatan.

"Kalau kita meningkatkan jumlah yang diperiksa atau dicari tentunya yang akan ketemu juga lebih banyak," kata dia.

Namun demikian, menurut dia, di sisi lain, banyaknya kasus yang ditemukan seiring swab yang digencarkan juga mengindikasikan bahwa penularan COVID-19 di level masyarakat masih ada.

"Ini jadi 'warning' kita bahwa dengan swab lebih banyak kita juga mendapatkan banyak. Artinya secara epidemiologi penularan di masyarakat masih ada," kata dia.

Meski ia mengakui bahwa banyak kasus yang ditemukan di DIY merupakan kasus impor atau penularan dari luar daerah, bukan berati transmisi lokal tidak ada.

"Kita tidak bisa mengatakan bahwa transmisi lokal itu tidak terjadi. Karena ini kan fenomena gunung es," kata dia.

Oleh sebab itu, menurut Berty, selain melindungi kelompok rentan, secara prinsip masyarakat tetap perlu menjaga kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, jaga jarak fisik, serta rajin cuci tangan.

"Sudah banyak penelitian-penelitian bahwa OTG itu bisa tidak menularkan kalau protokol kesehatan ditepati dengan disiplin," kata dia.

Dia juga berharap para pemangku wilayah di level RT/RW proaktif memproteksi warganya dengan mendata setiap pendatang atau pemudik yang masuk kemudian melaporkan ke puskesmas.

Dengan adanya laporan itu, menurut dia, pihak puskesmas akan menindaklanjuti dengan melakukan wawancara mendalam terhadap riwayat perjalanan pemudik atau pendatang. Jika dinilai berisiko, maka yang bersangkutan langsung diuji usap (swab).

"Kita sangat tergantung pemangku wilayah RT/RW. Kalau RT/RW ini sangat protektif terhadap warganya, maka lapor ke puskesmas," kata dia.

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji mengakui bahwa lonjakan kasus di wilayahnya merupakan bagian dari konsekuesi DIY yang sudah mulai terbuka kembali dengan kunjungan warga luar daerah baik untuk berwisata, kepentingan bisnis, atau mengunjungi keluarga.

"Saya mengingatkan kepada masyarakat jangan pernah lengah walaupun dengan teman dekat jaga jarak dan selalu menggunakan masker. Kita tidak boleh menyepelekan, apalagi kalau kita tahu seseorang itu baru datang dari luar kota," kata Aji.

Berdasarkan data Pemda DIY, total orang dalam pemantauan (ODP) di DIY hingga Selasa (21/7/2020) mencapai 8.157 orang, pasien dalam pengawasan (PDP) yang sudah diperiksa terkait dengan COVID-19 (dengan tes swab) tercatat 2.189 orang.

Dari jumlah PDP tersebut, 1.551 orang di antaranya dinyatakan negatif, 465 orang positif di mana 330 orang di antaranya sembuh, dan 13 meninggal, sedangkan yang masih menunggu hasil 173 orang dengan 32 di antaranya telah meninggal.

Sumber : Antara