Dirumorkan Tak Islami, Klepon Tetap Banyak Penggemarnya di Jogja

Klepon. - Ist/Instagram @anisakueker
22 Juli 2020 21:57 WIB Hery Setiawan (ST18) Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Jajajan tradisional klepon mendadak ramai diperbincangkan. Pasalnya, muncul sebuah kiriman di media sosial Twitter yang menyebut "Kue klepon tidak Islami. Yuk tinggalkan jajanan yang tidak Islami dengan cara membeli jajanan Islami, aneka kurma yang tersedia di toko syariah kami...Abu Ikhwan Aziz."

Kendati dianggap tidak islami, klepon tetaplah jajanan tradisional yang tak pernah kehilangan penggemarnya. Klepon kerap mengisi etalase atau wadah-wadah pedagang kue tradisional. Saking populernya, klepon juga sering muncul di berbagai acara penting, seperti pernikahan atau arisan.

Ada banyak alasan mengapa klepon begitu disukai. Selain harganya yang murah, klepon juga terkenal karena cita rasanya yang mampu menggoyang lidah. Tak heran bila sebagian orang bahkan rela untuk membelinya lagi dan lagi.

Seperti diutarakan oleh Mamik, seorang pembuat klepon yang bertempat tinggal di Manukan, Kelurahan Condongcatur, Kecamatan Depok, Sleman. Ia telah berdagang klepon sejak anaknya masih SD hingga kini duduk di bangku perguruan tinggi.

Dahulu, Mamik rutin memproduksi klepon tiap hari. Namun kini, kegiatan membuat klepon hanya ia jadikan sebagai sambilan saja. Sejak saat itu ia hanya memproduksi klepon berdasarkan pesanan saja.

"Karena repot. Saya harus minta bantu suami dan anak. Sementara mereka kan masih ada kegiatan," katanya kepada Harianjogja.com, Rabu (22/7/2020).

Kendati hanya sambilan, nyatanya ia tak kehilangan pelanggan. Sejumlah pelanggan setia tak jarang memilihnya sebagai rujukan produsen jajanan tradisional. Apalagi saat bulan Ramadhan. Jumlah pesanan akan jauh lebih banyak dari biasanya.

Wajar saja apabila pesanan ramai berdatangan kepada Mamik. Klepon buatannya dikenal karena lembut dan tahan lama. Harganya pun terhitung murah. Untuk empat biji klepon hanya dibanderol Rp2.500 saja.

Mamik mengaku kunci dari kualitas klepon buatannya terletak pada pilihan bahan dan cara mengolahnya. Bahan utamanya tak hanya cukup tepung ketan saja. Ia juga memanfaatkan kentang sebagai bahan penting untuk menghasilkan klepon yang begitu lembut.

"Kleponnya itu lembut. Yang bikin lembut itu karena saya pakai kentang," ujarnya.

Mula-mula kentang ia kukus hingga tanak. Sambil menunggu, ia persiapkan adonan tepung ketan yang sudah diberi pewarna makanan. Kentang yang sudah tanak, lalu ia masukan ke dalam adonan tepung ketan tadi. Semuanya kemudian dicampur alias diuleni hingga kalis.

Adonan tadi kemudian dibentuk menyerupai bola. Tak lupa isian gula merah dimasukan ke dalam adonan tadi. Isian itulah yang membuat klepon begitu dikenal dengan istilah "mecothot" dimulut. Saat klepon sudah matang, gula merah akan meleleh. Begitu digigit, isian gula merah pun langsung keluar. Seketika lidah serasa dimanjakan oleh paduan rasa lembut dan manis dari klepon.

Satu lagi yang tak kalah penting adalah lapisan kelapa. Menurut Mamik, klepon yang dilapisi dengan parutan kelapa terkadang membuatnya jadi tahan lama. Namun itu tidak berlaku bila parutan kelapa dikukus dulu sampai matang. Setelah itu baru bisa digunakan untuk melapisi klepon.

Biasanya, klepon hanya bisa bertahan dari pagi sampai sore tanpa dimasukkan ke dalam lemari es. Lain hal dengan klepon buatan Mamik yang mampu bertahan hingga malam hari atau lebih.

Tak hanya klepon berwarna hijau. Mamik juga memperkenalkan klepon berwarna ungu. Bahan utamanya terdiri dari ubi ungu yang dihaluskan. Jenis isiannya pun tetap sama, yakni gula merah yang meleleh ketika tiba di mulut.