Punya Komitmen Lindungi Anak, Jogja Terima Penghargaan dari KPAI

Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti menerima penghargaan dari KPAI pusat yang diberikan kepada Pemkot Jogja dalam hal sistem informasi monitoring evaluasi dan pelaporan. Penghargaan tersebut diberikan di Balai Kota Jogja, pada Rabu (22/7/2020). - Harian Jogja/ Catur Dwi Janati
24 Juli 2020 04:47 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Kota Jogja baru saja mendapat penghargaan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) atas komitmennya dalam penyelenggaraan perlindungan anak dan melaporkan capaian berbasis sistem informasi monitoring evaluasi dan pelaporan. Penghargaan tersebut tidak lantas membuat Pemkot Jogja dapat berleha, malahan saat ini Pemkot Jogja tengah berencana menyusun buku pedoman pendidikan karakter keluarga.

Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti yang menerima langsung penghargaan tersebut secara telekonferensi di Balai Kota Jogja pada Rabu (22/7/2020) mewakili Pemkot dan masyarakat Jogja berterima kasih atas penghargaan yang diberikan oleh KPAI. Menurut Haryadi, dari penghargaan tersebut dapat diartikan bahwa apa yang dilakukan Pemkot Jogja dalam hal sistem informasi monitoring evaluasi dan pelaporan sudah sesuai dengan yang digariskan oleh KPAI.

"Kita sudah berada pada trek yang benar," terangnya.

"Penghargaan ini tidak terus membuat kita puas diri terhadap apa yang sudah dan sedang dilaksanakan, tetapi penghargaan ini merupakan justru ujian untuk terus memacu kinerja Pemkot Jogja dan KPAI melalui DPPMA Kota Jogja," tutur Haryadi.

Ditambahkan Haryadi keluarga sebagai sektor hulu akan menjadi fokus ke depan dengan memberikan pedoman menyangkut hak-hak anak. "Tidak hanya sektor hilir, kalau ada KDRT, bullying anak saja, tapi bagaimana sektor hulu ini dilakukan upaya pencegahannya," jelasnya.

Baca Juga: Ucapkan Selamat Hari Anak Nasional, Jokowi: Mereka Harus Mendapat Perlindungan

Diterangkan Haryadi dalam buku pedoman keluarga yang akan dirintis akan memuat pedoman keluarga secara proporsional. "Bagaimana membuat pedoman kepada orang tua, kepada keluarga, untuk membuat buku pedoman pembentukan karakter dalam keluarga," terangnya. Dengan demikian perselisihan anak dapat diminimalisir. "Anak dipenuhi haknya, hak tumbuh kembang secara sehat, hak belajar, hak mendapat perlindungan, hak mendapat tempat yang aman," ujarnya.

Haryadi mencontohkan bahwa Ruang Terbuka Hijau (RTH) harus menjadi kawasan yang aman untuk anak. "Jadi kota yang maju itu bukan kota yang banyak gedung pencakar langitnya, banyak transportasi publiknya, tapi lupa kualitas kota yang maju itu adalah kota yang memberikan perempuan dan anak itu merasa aman dan nyaman kalau di luar rumah," tegasnya.

Ketua KPAI Jogja, Silvi Dewayani menambahkan buku pedoman keluarga tersebut akan segera diinisiasi. Pihaknya akan segera membentuk tim perumusan buku tersebut.

Obati Luka Psikis

Pembuatan buku pedoman dipicu oleh kondisi Covid-19 di mana anak kembali ke rumah. Diterangkan Silvi hak tersebut membuat banyak kasus mulai dari KDRT bullying ringan itu membuat luka psikis. "Itu kemudian kami mencoba mengadvokasi secara kultural dalam bentuk untuk sebuah pedoman simulasi keluarga sesuai dengan pemenuhan hak hak anak bareng tim PKK dan DPPMA Kota Jogja," jelasnya.

Baca Juga: Hari Anak Nasional, GKR Hemas Ajak Cucu Rapat Online

Diterangkan Silvi kondisi pandemi memberi tekanan mulai dari pandemi, sosial dan psikologis. Tekanan psikologis ini tidak hanya dialami anak, keluarga dalam hal ini orang tu juga mengalami kejenuhan. "Kemudian dalam satu keluarga ada beberapa anak, anak tersebut memiliki aktivitas di rumah sehingga gesekan terlalu tinggi ketimbang dulu banyak waktu di sekolah," jelasnya.

Pola asuh yang memenuhi hak-hak anak yang akan dijelaskan itu dalam buku pedoman tersebut. Bagaimana memilih kalimat positif untuk anak, kalau tujuannya baik kalimat harus disampaikan dengan baik jangan sampai membuat sakit hati anak atau bullying KDRT secara verbal.