Jadwal Prameks Jogja-Kutoarjo 2026, Jam Sibuk Tiket Ludes
Jadwal terbaru Prameks Jogja–Kutoarjo 2026 lengkap. Simak jam keberangkatan, tips hindari kehabisan tiket, dan jam sibuk penumpang.
Jumpa Pers di Pendopo Parasamya Kantor Setda Sleman, Senin (27/7/2020).-Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
Harianjogja.com, SLEMAN– Sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman akan melakukan tes swab massal di sejumlah Pondok Pesantren. Pelaksanaan tes swab massal pertama dijadwakan di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Sleman pada Rabu (29/7/2020).
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengatakan pondok pesantren yang menjalani tes swab tersebar di wilayah Sleman bagian timur, tengah serta barat. Untuk wilayah tengah, tes swab ditempatkan di Pondok Pesantren Pandanaran, Ngaglik. Setelah itu, Dinkes menyasar ponpes lain yang berada di Kecamatan Moyudan dan Berbah.
Menurut Joko, tes swab tersebut diutamakan untuk para ustaz yang datang dari luar Sleman. "Kebetulan banyak ustad yang datang dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Para ustadz dan ustadzahnya terlebih dahulu agar bisa dipastikan yang menerima santri, sehat terlebih dahulu," kata Joko dalam Jumpa Pers di Pendopo Parasamya Kantor Setda Sleman, Senin (27/7/2020).
Dia menjelaskan alasan mengapa Pondok Pesantren menjadi salah satu lokasi uji swab. Menurut Joko, dalam pencegahan Covid-19, screening menjadi langkah yang perlu dilakukan, salah satunya menyasar di tempat pendidikan yang berasrama. "Pondok Pesantren menjadi salah satu tempat yang potensial terjadinya penularan Covid-19 karena adanya interaksi terus-menerus antar penghuni. Untuk mengantisipasi itu kami akan lakukan tes swab massal," katanya.
Pertimbangan lain, lanjut Joko, tes swab dilakukan di Pondok Pesantren karena saat ini banyak Pondok Pesantren yang mengajukkan surat rekomendasi aman Covid-19. Surat rekomendasi tersebut dibutuhkan sebelum pondok pesantren menerima santri kembali ke pesantren sehingga Joko menilai perlu adanya uji swab.
Alasan selanjutnya, kata Joko, agar tidak ada klaster baru virus Covid-19 di Sleman. Pemkab, katanya, berkaca pada kasus-kasus sebelumnya di mana ada sejumlah kasus penularan Covid-19 di salah satu pesantren di sebuah kabupaten di Jawa Timur. "Jadi ini langkah antisipasi yang dilakukan Pemkab Sleman agar tidak terjadi penularan Covid-19 di pesantren di wilayah Sleman. Kami harus berkaca pada kasus yang sudah terjadi," kata Joko.
Joko mengatakan Pondok Pesantren Pandanaran dipilih menjadi lokasi pertama karena tempatnya dinilai representatif untuk dilakukan pemeriksaan atau tes swab massal. Sementara untuk pelaksanaan tes swab di Pondok Pesantren lainnya, lanjut Joko juga akan diterapkan dengan teknis yang sama. "Tes swab di lembaga pendidikan berasrama tentu tidak bisa diambil seluruhnya, namun dilakukan secara sampling," ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut juga Joko menjelaskan jika Pemkab menargetkan sebanyak 5.000 spesimen dalam waktu lima minggu. Dari jumlah tersebut prioritas utama diberikan kepada tenaga kesehatan (Nakes). Sampai saat ini sudah 2.000 tes swab yang dilakukan kepada para Nakes.
"Sisanya 3000 spesimen kami lakukan ke Pondok Pesantren dan pusat keramaian lainnya," jelasnya.
Kondisi Saat Ini
Hingga kini tercatat 181 kasus positif Covid-19 di Sleman, tujuh kasus (3,87%) meninggal dunia, 52 kasus (28,73%) dirawat di rumah sakit dan sebanyak 122 kasus (67,4%) sembuh. Dinkes sendiri menargetkan 10.000 uji swab hingga akhir tahun dengan target 5.000 uji swab hingga Agustus mendatang. Salah satu sasaran uji swab adalah pondok pesantren. Di wilayah Sleman terdapat 146 pondok pesantren.
Dinkes, kata Joko, juga menyiapkan tenaga medis yang memiliki kompetensi melakukan tes PCR agar mereka mampu mengambil spesimen dari tenggorokan-hidung. Saat ini sudah ada 150 petugas yang bisa melakukan uji swab di mana 50 petugas sudah mengantongi sertifikasi. "Strategi kedua, kami akan meningkatkan kapasitas dan kompetensi SDM, khususnya untuk upaya memperbanyak cakupan uji PCR," kata Joko.
Terkahir, Dinkes akan terus melakukan promosi dan edukasi kepada masyarakat agar tetap menerapkan protokol kesehatan. Cara ketiga ini akan dilakukan bersama seluruh Satgas Covid 19. "Kami akan terus menggencarkan upaya promosi dan edukasi tentang \'cita mas jajar\' atau cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak," kata Joko.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes Sleman, Novi Krisnaeni menjelaskan rencananya akan ada 100 ustaz di Pondok Pesantren Pandanaran yang akan dilakukan swab. Saat ini pihaknya tengah berkoordinasi dengan pengurus pondok terkait data ustaz yang akan mengikuti swab karena pelaksanaan uji swab berbeda dengan pemeriksaan RDT.
"Di Pandanaran ada sekitar 300 ustaz dan kami hanya mengambil sampel bagi 100 ustad saja. Tidak mungkin akan melakukan semua. Kita prioritaskan ustaz-ustaz yang dari wilayah luar Sleman," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal terbaru Prameks Jogja–Kutoarjo 2026 lengkap. Simak jam keberangkatan, tips hindari kehabisan tiket, dan jam sibuk penumpang.
Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin menghadapi pasangan India pada final Thailand Open 2026 setelah tampil impresif tanpa kehilangan gim.
Primbon Jawa menyebut Minggu Wage menjadi hari pantangan bagi weton Kamis Legi dan Kamis Pahing untuk acara penting.
Tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional, Hari Hipertensi Sedunia, dan Hari Telekomunikasi Sedunia. Berikut maknanya.
Beragam acara seru digelar di Jogja Minggu 17 Mei 2026, mulai wisata budaya, pameran seni, pesta buku hingga expo kendaraan listrik.
Simak daftar lengkap jalur Trans Jogja aktif beserta tarif terbaru dan sistem pembayaran nontunai di Yogyakarta.