Cerita di Balik Medsos Rektor UNY: Tanpa Tim Khusus, Sutrisna Wibawa Cek Medsos Dua Jam Sekali

Rektor UNY Sutrisna Wibawa - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
27 Juli 2020 19:07 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) punya rektor kekinian. Sutrisna Wibawa, yang menjabat sebagai Rektor UNY sejak 22 Maret 2017 lalu itu dikenal aktif di media sosial. Ia bahkan mengaku tiap dua jam sekali mengecek akun media sosial pribadinya.

Guru Besar Filsafat Jawa UNY ini sangat aktif di Instagram. Akun Instagram pribadinya @sutrisna.wibawa punya 76,200 pengikut. Di Twitter, akun @sutrisna_wibawa diikuti 14.000 orang. Seluruh media sosial pribadinya itu, kata dia, ia kelola sendiri tanpa tim khusus.

"Saya pegang akun sendiri, nggak ada tim. Mereka kasih saran aja," kata Sutrisna ketika ditemui Harian Jogja di ruang kerjanya di Gedung Rektorat UNY, Senin (27/7/2020).

Pria 60 tahun asal Gunungkidul ini mulanya hanya iseng-iseng saja bermain media sosial sejak 2015. Lama kelamaan, ia semakin aktif mengunggah foto dan postingannya dikomentari sejumlah mahasiswanya. Menurutnya, media sosial bisa mendekatkannya dengan generasi di bawahnya.

"Saya masuk generasi X, usia enam puluhan. Menurut saya, untuk bisa berkomunikasi dengan generasi Z, kita harus mendekatkan diri. Meskipun saya tidak bisa 100% seperti generasi Z, tapi paling tidak unggulan di generasi Z itu kita harus kuasai, yaitu media sosial," ungkapnya.

Lewat medsos, mahasiswanya bahkan seringkali menyampaikan keluhannya soal akademik di kolom komentar.

"Banyak juga keluhan mahasiswa dan dosen yang disampaikan lewat komentar. Dua jam sekali saya lihat medsos. Kalau ada keluhan, saya screenshot, kirim ke unit yang menangani," ujar akademisi yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi ini.

Meski begitu, tak semua hal yang disampaikan lewat kolom komentar akunnya bernada positif. Tak jarang pesan negatif bahkan berisi kata-kata kasar disampaikan padanya. Namun, selama ini Sutrisna mencoba tenang dan menanggapinya dengan positif.

Bermain media sosial menurutnya tak bisa sesuka hati. Pesan yang disampaikan harus santun. Namun, ketika ada pesan negatif, pelaku media sosial juga harus punya daya tahan yang tinggi untuk menanggapi pesan tersebut tanpa emosi. "Kita harus punya manajemen amarah, meskipun berat," kata Sutrisna.