Ada Dua Banner Terpasang di Tugu Jogja, Ini Asal Mulanya

Dua buah papan reklame berukuran besar bertemakan kewaspadaan terhadap Covid 19 dipasang di simpang empat Tugu Pal Putih, Jogja, seperti terlihat pada Sabtu (1/8/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
01 Agustus 2020 12:47 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Dua banner terpasang di Tugu Golong-Gilig Kota Jogja, Sabtu (1/8/2020). Banner tersebut berukuran besar sehingga pengendara lalu lintas yang melewati perempatan tersebut bisa membacanya.

Banner itu dipasang oleh aliansi masyarakat sipil DIY yang bergotong-royong menjaga Jogja. Juru bicara aliansi, Nurholis Majid mengungkapkan banner “Jaga Jogja, Aja Lena, Aja Sembrana” itu merupakan upaya simbolis dimulainya gerakan aliansi untuk menjaga Jogja dari pandemi Covid-19. Supaya tidak menimbulkan keramaian, aliansi tidak mengerahkan massa di lokasi tersebut, namun banner akan dipasang hingga Minggu (2/8/2020).

Baca juga: Iduladha Banyak Warga Masak Daging, Pertamina Pastikan Stok Elpiji di Jogja Aman

Nurholis yang juga Korwil Mafindo Jogja itu menjelaskan DIY merupakan provinsi yang hingga kini dinilai lebih berhasil meredam dampak pandemi Covid-19. Dengan partisipasi publik dan kepatuhan yang baik, sinergi dengan pemerintah daerah yang erat, DIY mampu menahan laju kasus positif harian Covid-19.

Namun beberapa waktu terakhir terlihat berkurangnya kewaspadaan masyarakat DIY. Mulai tampak tanda-tanda melemahnya kepatuhan warga terhadap protokol kesehatan seperti bertambahnya masyarakat yang tidak menggunakan masker di ruang publik serta mulai terbentuknya keramaian yang mengabaikan aturan jarak.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran sejumlah pihak, terlebih ada peningkatan kasus harian yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Untuk itu masyarakat sipil DIY membentuk aliansi untuk bergotong-royong menjaga Jogja.

Baca juga: Minta Warga Tak Takut Covid-19, Presiden Brazil: Kupikir Hampir Semua Orang Akan Terinfeksi pada Akhirnya

Nurholis menjelaskan aliansi ini terdiri dari berbagai elemen masyarakat Jogja yang memiliki kesadaran bahwa upaya untuk menahan dampak pandemi Covid-19 adalah upaya berkelanjutan hingga nanti pandemi ini enyah dari Bumi Pertiwi.

"Sebelum pandemi ini nyata-nyata punah, maka masyarakat Jogja akan terus mempertahankan kewaspadaan dengan menjaga sikap aja lena, aja sembrana," katanya, Sabtu (1/8/2020).

Ada lebih dari 20 lembaga yang bergabung di antaranya, Mafindo Yogyakarta, AJI Yogyakarta, LKK PWNU DIY, Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (SAPDA), GP Ansor DIY, GERKATIN DIY, Gerkatin Kabupaten Sleman, Rumah Perubahan LPP, PR2Media, Perkumpulan Sinergi Sehat Indonesia (PSSI), Rifka Annisa, MIK UAJY, Yayasan Dinamika Edukasi Dasar, Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN), Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB), Himmikom Atmajaya, Jogja Sehat Tanpa Tembakau (JSTT), Ikatan Sarjana Katholik Indonesia (ISKA) DIY, DEMA FISHUM UIN Sunan Kalijaga, PUSBISINDO, GEMAYOMI, dan KKPKC KAS.

“Ada kawan-kawan aktivis, akademisi, jurnalis, profesional, dan mahasiswa yang tergabung dalam gerakan ini," tambahnya.

Sebagai gerakan terbuka dan non partisan, diharapkan aliansi ini mampu berkontribusi untuk menggerakkan semangat gotong-royong antara elemen masyarakat, instansi pemerintah, tokoh masyarakat, tetua agama, media massa dan organisasi masyarakat sipil.

"Kami akan terus melakukan gethok-tular mengajak masyarakat Jogja saling menjaga, patuh pada protokol kesehatan seperti menggunakan masker di ruang publik, rajin mencuci tangan, menjaga jarak fisik, dan menghindari keramaian. Intinya PHBS plus,” lanjut Nurholis.

Ketua Presidium Mafindo Septiaji Eko Nugroho, menjelaskan bahwa aliansi ini juga akan berperan untuk memerangi infodemi, yaitu kabar bohong yang mengikuti pandemi Covid-19, dan tidak kalah berbahaya dibanding virusnya sendiri. Infodemi ini ditengarai menjadi salah satu penyebab turunnya ketidakpatuhan masyarakat, bahkan di beberapa tempat memicu ketidakpercayaan dan intimidasi kepada tenaga kesehatan dan rumah sakit.

Menurutnya, infodemi ini menimbulkan problem besar tidak hanya di Indonesia. Gelombang penolakan masker di Amerika hingga pembakaran tower 5G di Inggris diperparah dengan maraknya hoaks dan teori konspirasi.

"Indonesia pun kebanjiran infodemi berupa hoaks dan teori konspirasi dengan jumlah yang sangat besar, hampir 100 topik setiap bulan, dan kita patut berjuang untuk memerdekakan masyarakat dari penyakit informasi ini supaya mereka bisa mengambil keputusan atas informasi yang benar,” jelas Septiaji.