Pemkab Sulap Asrama Haji Jadi Faskes Darurat

Ilustrasi. - Freepik
03 Agustus 2020 21:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMANĀ - Untuk mengatasi lonjakan pasien Covid-19, Pemkab Sleman mengaktifkan Asrama Haji sebagai fasilitas kesehatan (Faskes) darurat. Faskes tambahan tersebut disediakan khusus untuk menangani pasien Covid-19 bergejala ringan dan orang tanpa gejala (OTG).

Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan Asrama Haji mulai saat ini dijadikan sebagai Faskes darurat untuk mengisolasi pasien positif Covid-19. Hal ini dilakukan untuk mengatasi potensi lonjakan pasien Covid-19 yang tidak tertangani di rumah sakit rujukan. "Lonjakan kasus baru positif Covid-19 tentu membuat ruang isolasi semakin terbatas. Kami antisipasi dengan menyediakan Asrama Haji sebagai Faskes untuk isolasi pasien positif bergejala ringan," katanya, Senin (3/8/2020).

Asrama Haji dijadikan lokasi perawatan pasien positif asimtomatik, terang Sri, agar pasien mendapatkan perawatan yang optimal dibandingkan isolasi di rumah. Jika pasien tersebut menunjukkan gejala medis lanjutan, maka segera dirujuk ke rumah sakit rujukan Covid-19. Sebaliknya, jika pasien menunjukkan gejala negatif selama dirawat di Asrama Haji tersebut maka ia akan dipulangkan untuk menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Sri mengakui, terjadinya lonjakan kasus baru Covid-19 di Sleman salah satunya akibat mulai meningkatnya mobilitas massa dari luar daerah ke Sleman. Baik untuk belajar, berwisata maupun bekerja. "Saat tiba di Sleman mereka melakukan pengecekan dan ternyata hasilnya positif kemudian menulari keluarga dan sekitarnya," kata dia.

Selain faktor tersebut, lanjut Sri, lonjakan kasus baru positif Covid-19 juga sebagai konsekuensi dari massifnya uji swab massal yang dilakukan Dinkes Sleman. Terutama kepada tenaga medis. "Kami juga gencar melakukan uji swab. Ini konsekuensi dari lonjakan kasus baru," kata Sri.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengatakan tercatat 132 pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit di Sleman. Dari jumlah tersebut sebanyak 117 orang atau 88,89% merupakan OTG, delapan pasien bergejala berat dan tujuh lainnya bergejala sedang.

"Sebagai alternatif untuk mengantisipasi hal itu, kami sediakan Asrama Haji sebagai Faskes darurat dengan kapasitas 160 orang," katanya.

Saat ini, katanya, Faskes darurat tersebut sudah diisi oleh sekitar 20 orang OTG dari 132 ruang yang disiapkan. Sebagian kamar juga disiapkan untuk ruang isolasi (titipan) dari tahanan Kejaksaan. "Ada 10 ruangan titipan tahanan kejaksaan yang disiapkan selain tenaga medis. Total 22 ruangan yang disiapkan," katanya.

Menurut Joko, pasien positif Covid-19 tanpa gejala dan gejala ringan sebenarnya boleh melakukan isolasi mandiri di rumah. Hanya saja untuk memaksimalkan perawatan, maka mereka diwajibkan tetap menjalani isolasi di Faskes darurat tersebut. "Jadi yang positif tanpa gejala dan gejala ringan tetap diisolasi di Asrama Haji agar tidak menulari sekitarnya. Kalau mengalami gejala berat, maka pasien tersebut akan dibawa ke rumah sakit rujukan," kata Joko.