Ada Pandemi Corona, Kualitas Udara di Jogja Membaik

Bangku tempat duduk di sepanjang jalan Malioboro dipasangi pembatas dari tali rafia seperti terlihat pada Selasa (21/04/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
06 Agustus 2020 10:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja menyatakan kualitas udara di wilayah Kota Jogja selama pandemi Covid-19 berada di bawah ambang batas atau dalam kondisi baik. Pasalnya, aktivitas masyarakat banyak yang berkurang beberapa bulan terakhir.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Suyana mengatakan jika menurunkannya aktivitas masyarakat akan berdampak terhadap kualitas udara. Seperti halnya, penggunaan kendaraan bermotor di jalan-jalan umum yang terpantau tidak terlalu padat.

Baca juga: Akses Air Didorong Semakin Mudah

"Seperti aktivitas masyarakat yang keluar dengan motor maupun mobil kemana-mana. Di Jogja juga tidak ada kemacetan. Semua lancar. Artinya, traffic juga tidak padat dan berimbas kepada meningkatnya kualitas udara yang membaik," ujar Suyana, Rabu (5/8/2020).

Berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara di sejumlah titik hasilnya menunjukkan jika kualitas udara di wilayah kota Jogja berada di warna hijau. Artinya, kualitas udara bagus.

"Kami mengambil sampel di banyak tempat, misalnya di tempat yang traffic-nya tinggi seperti di tugu, Malioboro, titik nol, Senopati. Kalau kepadatan rendah seperti di perumahan, perkantoran. Bahkan, tempat yang menjadi wilayah industri juga kami ambil. Kemudian kami rata-ratakan," jelasnya.

Baca juga: Tak Mengenakkan, Ini Efek Tidur Pakai Kipas Angin

Indikator yang dipakai oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Jogja untuk menunjukkan kadar kualitas udara adalah warna. Jika warna hijau artinya baik. Sedangkan, kuning artinya sedang. Warna jingga artinya tidak sehat untuk masyarakat rentan. Terakhir, warna merah artinya tidak sehat.

"Sejak aktivitas masyarakat dikurangi Maret lalu itu semua warnanya hijau. Masyarakat kan diimbau untuk tidak keluar rumah. Kemudian, tempat wisata juga tidak ada pengunjungnya. Traffic juga rendah. Kualitas udara juga menjadi bagus," sambung Suyana.

Meskipun, aktivitas masyarakat di wilayah kota Jogja kembali bergeliat. Seperti, jumlah kendaraan bermotor yang kembali ramai dan lumayan padat di jam-jam tertentu, hal tersebut tidak berdampak terhadap kualitas udara di wilayah kota Jogja.

"Saya kira yang paling memberikan andil terhadap kualitas udara di wilayah kota Jogja adalah masyarakat yang berasal dari wilayah luar kota Jogja. Itu yang memberikan andil paling besar terhadap kualitas udara. Karena nanti kan pasti akan crowded. Sekarang masih hijau dan dibawah ambang batas semua," terang Suyana.

Berdasarkan data dari DLH Kota Jogja, konsentrasi karbon monoksida (CO) pada Maret mencapai 4.169 mikogram per meter kubik. Kemudian, pada April angkanya turun kembali menjadi 3.820 mikogram per meter kubik. Angkanya, turun kembali 2.426 mikrogram per meter kubik. Konsentrasi CO pada bulan Mei berkurang menjadi 42 persen jika dibandingkan pada Maret lalu.