Sejarawan UGM Minta Tol Jogja-Bawen Tak Menerabas Bangunan Cagar Budaya

Ilustrasi jalan tol. - JIBI/Nicolous Irawan
11 Agustus 2020 21:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Sejarawan UGM Djoko Suryo atau KRT Suryohadibroto berharap bangunan cagar budaya (BCB) ataupun bangunan bersejarah lainnya tetap dilindungi dari pembangunan jalan tol. Apalagi jika bangunan tersebut terkait dengan perjuanan atau perjalanan tokoh nasional.

"Nilai sejarahnya harus dipertahankan dan dipelihara. Kalau sudah dialihfungsikan nilainya bisa luntur, hilang. Maka bangunan tersebut harus dicagarkan," kata Djoko, Selasa (11/8/2020).

Pernyataan Djoko merespons dua BCB limasan di Sleman yangterancam tergusur tol Jogja-Bawen.

Dia mengatakan, rumah limasan di Tegalrejo yang pernah dijadikan markas para pejuang apalagi menjadi tempat ahli bom sekaligus Rektor UGM Herman Johannes sangat langka di Jogja. Rumah tersebut bisa menjadi monumen dan peringatan bagi generasi selanjutnya.

"Di Sleman dulu rumah para pamong dijadikan markas oleh para pejuang. Jika masih ada (yang berdiri) apalagi ada saksi sejarahnya itu sangat langka. Saya usulkan bangunan itu harus dipertahankan dan dilindungi," katanya.

BACA JUGA: Mendikbud Bolehkan Sekolah Dibuka, Sultan: Jangan Dulu

Rencana pembangunan dua ruas jalan tol, Jogja-Solo dan Jogja-Bawen mengancam keberadaan bangunan cagar budaya (BCB). Kedua bangunan tersebut merupakan rumah limasan yang memiliki nilai sejarah tinggi khususnya pada masa perjuangan.

Satu BCB yang terancam tergusur ruas tol Jogja-Bawen adalah Rumah limasan milik Mijosastro di Pundong 2, Tirtoadi, Mlati. Sementara lainnya rumah limasan di Tegalrejo, Tamanmartani, Kalasan milik Soedarjo.