46 Persen Perpustakaan Kalurahan Bantul Mati Suri, Ini Arahan Bupati
Sebanyak 46 persen perpustakaan kalurahan di Bantul dinyatakan tidak aktif. Bupati Halim instruksikan lima langkah strategis penguatan literasi desa.
Bupati Bantul Suharsono (kedua dari kanan) saat menikmati salah satu menu makanan di Pusat Luliner Pasar Bantul Lantai II, Jumat (14/8/2020)-Harian Jogja/Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL-Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Perdagangan kembali menghidupkan lantai II dan III Pasar Bantul yang sudah lama mangkrak menjadi pusat kuliner dan Co Working. Perubahan wajah baru lantai II dan III pasar tersebut diresmikan langsung oleh Bupati Bantul Suharsono dan Direktur Utama Bank BPD DIY, Santoso Rahmad, Jumat (14/8/2020).
Meski baru diresmikan pusat kuliner ini sudah buka sejak beberapa hari lalu dari mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB. Sejumlah menu yang dapat dinikmati di pusat kuliner tersebut di antaranya adalah empek-empek, sop empal, bakmi jawa, sate kambing, aneka es, milan roti, lontong tuyuhan, sate taichan, seblak, lesehan sambel welut, hingga kafe dengan varian kopi sesuai selera.
Kepala Dinas Perdagangan Bantul, Sukrisna Dwi Susanta mengatakan pemanfaatan kios di lantai II dan III Pasar Bantul menjadi pusat kuliner dengan konsep Foodcourt dan Co Working Space yang bertema Bantul Collaboratif Launge (BCL) adalah sebuah ruang kerja yang menawarkan tempat untuk usaha. Ruang tersebut menjadi kalaborasi antara pelaku wiraswasta dan pelaku usaha kecil menengah (UKM).
Saat ini sudah ada 22 kios kuliner di lantai II yang sudah aktif berjualan yang sebelumnya tidak termanfaatkan, “Penataan kios kuliner lantai II dan BCL di lantai III Pasar Bantul ini bagian dari upaya kami dalam menangani kios mangkrak di pasar rakyat,” kata Sukrisna, disela-sela peresmian pusat kuliner dan BCL.
Sukrisna berharap adanya adanya pusat kuliner di Pasar Bantul dapat meningkatkan pendapatan masyarakat teruama di tengah pandemi Coronavirus Disease (Covid-19). Selain itu juga diharapkan wilayah jantung kota di Bantul tersebut lebih menarik lagi bagi wisatawan. Pada akhirnya juga akan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).
Dinas Perdagangan juga memberi nama khusus pada pusat kuliner di Pasar Bantul tersebut, “Pusat kuliner ini kami beri nama Kemangi dengan harapanagar Kuliner Pasar Mbantul Ngangeni”. Sementara untuk operasional pusat kuliner dan Co Working tersebut dimulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB.
Bupati Bantul Suharsono berharap keberadaan pusat kuliner Pasar Bantul dan BCL akan menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat untuk datang berbelanja di Pasar Bantul, sehingga nantinya menjadi kekuatan ekonomi yang mampu meningkatkan kualitas kesejahteraan para pedagangnya serta dapat menjadi salah satu destinasi ikonik.
“Terlebih posisi Pasar Bantul yang berada di jantung kota yang merupakan jalur utama menuju bandara, tentunya menjadi harapan besar kami bahwa tempat ini akan menjadi pusat kuliner yang mengesankan bagi masyarakat luas yang melintas,” kata Suharsono.
Suharsono meminta kepada semua pihak agar turut membantu mempromosikan dan menyebarluaskan keberadaan pusat kuliner Pasar Bantul dan juga bantul collaborative lounge, baik melalui komunikasi langsung, dengan media sosial, maupun dengan media promosi lainnya sehingga dapat di ketahui oleh masyarakat luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 46 persen perpustakaan kalurahan di Bantul dinyatakan tidak aktif. Bupati Halim instruksikan lima langkah strategis penguatan literasi desa.
Sebanyak 1.021 warga Sleman gagal donor darah awal 2026, mayoritas karena Hb rendah. PMI pastikan stok aman.
Keributan misa GMS Bantul dipicu izin belum lengkap. Polisi mediasi kedua pihak, situasi kini kondusif dan tetap jaga toleransi.
Tawuran remaja di Magelang dipicu tantangan Instagram. Dua pelajar luka parah, lima pelaku diamankan polisi.
Polemik GMS Bantul berujung kesepakatan. Ibadah tetap boleh, namun wajib lengkapi izin. Polisi siap tindak pelaku intimidasi.
Survei Abacus Data: 80% warga Kanada nilai AS di jalur salah. Faktor Trump dan kondisi global jadi pemicu kekhawatiran.